byTagg sekarang mendukung Bahasa Indonesia


byTagg sekarang mendukung Bahasa IndonesiaByTagg merupakan salah satu tool favorite saya dalam urusan Rss Feed Reader dan Twitter Reader, karena tools ini begitu mudah digunakan serta terbilang sangat cepat dalam prosesnya. Untuk byTagg sendiri sebenarnya sudah pernah saya ulas pada tulisan terdahulu, yang belum baca silahkan bisa buka arsip sebelumnya disini.  Dilain cerita, saya sendiri sebenarnya memang ada keterkaitan kerjasama dengan byTagg, dan hari ini byTagg resmi dengan dukungan bahasa indonesia untuk mempermudah kita menggunakan aplikasi ini. Dalam hal ini saya sendiri yang bertindak sebagai translator. Buruan download disini.

byTagg sekarang mendukung Bahasa Indonesia
Mungkin rekan berpikir kenapa harus menggunakan byTagg ya? terus terang tools ini merupakan salah satu penyumbang Adsense dan trafik besar buat saya, karena byTagg sendiri memiliki jenis program affiliasi yang terbilang unik. Bila beberapa jenis affiliasi membayar kita untuk setiap kali mereferensikan produk kepada orang lain, byTagg berbeda,  kita dapat keuntungan dengan cara merefer tools ini kepada orang lain yang mendownload langsung melalui link kita. Sebagai imbal baliknya, kita dapat memasang iklan apa saja pada tools ini, bisa berupa link Banner maupun Andsense. Semakin banyak download melalui link affiliasi kita, semakin banyak user yang menggunakan byTagg, tentu akan semakin maknyus hasilnya heheheOh iya, untuk yang akan datang situs byTagg akan hadir juga dalam bahasa indonesia dan rilis byTagg yang terbaru juga akan dilengkapi dengan fasilitas show image pada Twitter, silahkan follow saja twitter byTagg disini

Special thanks for Bruno Kilian

Disalin dari : www.o-om.com

Iklan

Sabun Colek


Sabun ColekKalau diibaratkan hidup berumah tangga seperti mengendarai bus, peran ganda memang tidak bisa dipungkiri. Adakalanya kondektur merangkap jadi sopir. Dan adakalanya pula, sopir berperan ganda sebagai kondektur.

Hidup berpasangan memang penuh warna-warni. Terlebih ketika sebuah pasangan telah teranugerahi buah hati. Pelangi hidup jadi kian semarak. Dan tiap warna memberikan kenangan tersendiri yang sulit terlupakan.

Di antara warna itu adalah ketika seorang suami ingin merasakan repotnya jadi seorang isteri. Ini otomatis menyangkut beban isteri pada anak-anaknya. Apa saja. Mulai masak, mengurus anak, menata perabot rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, serta menampung keluhan anak-anak.

Mungkinkah? Jawaban sebenarnya bukan sekadar mungkin, tapi harus. Karena semua tugas itu memang terpikul di pundak suami. Suamilah yang paling bertanggung jawab atas semua beban hidup keluarga. Semantara isteri hanya sebagai kepanjangan tangan suami.

Buat suami yang mampu, mereka menyediakan para pembantu buat tugas-tugas rumah seperti itu. Ada juru masak, tukang cuci, perawat anak, dan tukang kebun. Tapi, buat yang kantongnya pas-pasan, masih ada cara lain. Mau tidak mau, suami mesti terjun mengurus seisi rumah. Setidaknya, itulah yang kini dialami Pak Hasan.

Bapak lima anak ini sadar betul kalau tugas isteri itu sangat berat. Belum lagi kesibukan sosial di masyarakat. Dan kesibukan luar itu bisa datang dari dua arah: sebagai pelaku dan sebagai peserta. Kalau dua sebagai itu tergabung, kesibukan luar bisa berlipat-lipat.

Buat Pak Hasan, seorang isteri adalah aset keluarga yang sangat mahal. Itulah kenapa ia bukan sekadar mengikhlaskan isterinya aktif di masyarakat, bahkan memberikan semangat ketika hasrat aktif itu mulai redup. Kalau sudah begitu, Pak Hasan mesti siap dengan urusan rumah. “Ah, cuma masak ama nyuci ini lah. Gampang!” tekad Pak Hasan sambil menatap sang isteri pergi.

Mulailah ia repot-repot memasak mie instan. Mie siap, telor ada, air dalam panci mulai tampak mendidih. Tapi…. Sesekali Pak Hasan menoleh ke arah anak-anak yang tak sabar menanti. Ada yang mulai menangis, ada yang teriak-teriak, ada juga yang sibuk berebut piring dan sendok. “Sabar, Nak!” suara Pak Hasan menambah riuh suasana.

Sejenak, ia seperti teringat sesuatu. Tatapannya tiba-tiba begitu tajam ke arah dua benda di hadapannya: mie dan telor. “Eh iya. Mana yang lebih dulu masuk, ya. Mie apa telor? Lha, saya kok jadi bingung,” suara spontan Pak Hasan tiba-tiba. Sementara, suara tangis dan teriakan anak-anaknya kian nyaring. Di luar dugaan, luapan air mendidih lebih dulu mematikan kompor sebelum Pak Hasan mengambil keputusan: antara mie dan telor.

Pernah juga Pak Hasan berepot-repot memandikan tiga anaknya yang masih balita. Sementara dua anaknya yang di SD sudah berangkat ke sekolah. Satu anaknya yang akan mandi tampak menangis, “Nggak mau ayah. Dingin. Ani nggak mau mandi!” Sedang di kamar mandi sudah tampak dua anaknya yang lain sedang guyur-guyuran dengan baju masih melekat di badan. “Hati-hati, Nak. Nanti masuk kuping!” teriak Pak Hasan sambil menggiring satu anaknya yang masih menangis ke kamar mandi.

Sesaat Pak Hasan terdiam. Ia seperti mengingat sesuatu, “Ah iya, sabun mandinya habis.” Pak Hasan tampak bingung. Nggak mungkin memandikan anak dengan bersih kalau nggak dengan sabun. Tapi, siapa yang mau pergi ke warung. Tak ada orang lain kecuali dia dan tiga anaknya yang sedang mandi. Kalau ditinggal pergi, ia khawatir anak-anaknya terjatuh. Duh, gimana dong? Pak Hasan tambah bingung.

Sejenak, matanya menangkap sesuatu di bak pencuci piring. Ah, itu dia. Pak Hasan bergegas mengambil sabun colek yang biasa digunakan isterinya buat cuci piring. “Yah, masih sama-sama sabun,” ucapnya sambil menghampiri anak-anaknya yang mulai kedinginan. Satu per satu, anak-anak diolesi sabun, dibilas untuk kemudian digosok dengan handuk. Mandi pun selesai.

Mulailah Pak Hasan menyiapkan baju salin anak-anak. Ia teliti satu per satu baju yang ada. Mulai dari kecocokan dengan cuaca yang musim hujan, warna, dan keserasian atasan dan bawahan. Saat itulah ia kembali dihibur dengan suara merdu tangis anak-anaknya. Kali ini, bukan cuma satu. Tapi ketiga-tiganya. “Aduh, gatal ayah! Badan adek gatal nih!”

Mendengar itu, spontan Pak Hasan menghampiri anak-anaknya. Ketiganya tampak sibuk menggaruk-garuk tangan, badan, dan kaki. “Kamu kenapa, Nak?” suara Pak Hasan agak panik. Tak ada jawaban kecuali tangis yang kian menderu. “Lha, kenapa ya? Jangan-jangan…sabun colek itu. Ya Allah!”

Pak Hasan menatap tiga anaknya yang sedang tidur siang. Sesekali, ia kembali mengolesi obat gatal di kaki sang anak yang hilang karena tergaruk. “Kasihan anak-anakku!” suara batin Pak Hasan sesaat setelah ia beranjak ke ruang tengah.

Dari ruang itulah ia bisa melihat hampir separuh isi rumahnya. Tampak ruang tamu yang acak-acakan. Dua kursi terbalik, dan taplak meja terlihat menjuntai di atas lemari pajangan. Belum lagi pemandangan lantai yang begitu semarak dengan mie instan mentah yang berserakan.

Ia pun menoleh ke ruang dapur. Tampak di sana piring-piring kotor saling bertumpukan. Dua gelas plastik tergeletak di lantai dengan genangan larutan warna coklat. Tak jauh dari situ, baju dan celana dalam anak-anak berserakan.

Saat itu, Pak Hasan teringat sesuatu. Ia kian sadar betapa tugas seorang isteri tidak mudah. Berat! Ah, ternyata lebih mudah jadi sopir daripada berperan sebagai kondektur. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Kurang Garam


Kurang Garam

Kurang GaramMengelola rumah tangga tak ubahnya seperti mengolah masakan. Perlu kesungguhan, kesabaran, serta cukup bumbu dan garam. Satu lagi yang tak boleh ketinggalan: ketelitian. Sebab garam saja, masakan jadi tak punya rasa. Atau sebaliknya, kelewat terasa. Dan dua-duanya sangat mengurangi selera.

Bersatunya dua anak manusia dengan latar belakang berbeda memang punya seribu satu cerita. Ada yang indah dan enak dikenang. Tapi tak sedikit yang bikin mulut jadi cemberut.

Buat mereka yang biasa menggeluti dunia nyata, akan menganggap itu wajar. Wajar karena tak ada manusia yang sempurna. Ada kelebihan dan tak sedikit kekurangan. Masalahnya, ketika kenyataan hidup itu dipandang dengan kacamata perfectionist atau serba sempurna, tentu akan terjadi kesenjangan.

Lalu, gimana mungkin sebuah bahtera rumah tangga terasa nyaman ketika baut-baut kapal dan sekrupnya mulai berjarak. Walau hal kecil, sekrup dan baut punya peranan penting. Jika tidak segera disadari dan diperbaiki, baut dan sekrup kecil bisa bikin kapal yang besar pecah berantakan.

Benarkah begitu? Pak Wawan punya pengalaman sendiri tentang itu. Enam tahun pernikahan memang tergolong rentang perjalanan pendek buat siapa pun, termasuk Pak Wawan. Karena pernikahan sejati tidak pernah berujung. Buat seumur hidup di dunia. Dan akan berlanjut pada kehidupan lain di akhirat.

Namun, enam tahun itu saja, sudah banyak warna yang ia serap. Ada warna miskomunikasi. Ada cemburu. Masalah keuangan. Dan satu lagi, soal ketidakpuasan.

Dari empat warna itu, ketidakpuasan bisa diurutkan sebagai rangking teratas. Tapi, stadium ketidakpuasan buat Pak Wawan bukan tergolong tingkat berat. Cuma masalah pernik-pernik pergaulan berumah tangga. Ringan. Soal kebersihan rumah, tata ruang, pola asuh anak, dan bumbu masakan. Cuma itu, tak ada yang lain. Justru, yang terasa ringan itu kalau terus-menerus terasa bisa menjadi petaka.

Awalnya, semua terasa dari satu arah. Ego Pak Wawan selalu mengatakan kalau isterinya banyak kekurangan. Agak bergeser di luar target yang pernah dipasang bapak tiga anak ini sebelum memasuki jenjang pernikahan. Saat itu ia heran, kemudian akhirnya kecewa.

Pernah beberapa kali ia mendapati anak-anaknya yang masih balita belum mandi sore. Padahal, ia tiba di rumah sudah menjelang waktu Isya. Pak Wawan pernah juga mencium bau ompol dari tempat tidur anak-anak. Satu hari mulai terasa, dua hari kian terasa. Bagaimana mungkin anak-anak bisa tidur pulas dengan aroma kayak gitu. Pak Wawan mulai geleng-geleng kepala.

Di lain kesempatan, Pak Wawan sempat menahan rasa. Waktu itu saat sarapan. Sudah menjadi kebiasaan sejak masa lajang, Pak Wawan selalu sarapan sebelum keluar rumah. Secara teori gizi, makanan saat sarapan sangat menentukan produktivitas seseorang. Kalau sarapan ala kadarnya, hasil kerja pun bisa tak seberapa. Keyakinan itulah yang dipegang Wawan.

Ketika sarapan itu, Pak Wawan merasa ada yang aneh dengan masakan isterinya. Rasanya itu lho: asiiin luar biasa. Apa nggak dirasai dulu. Kok, ceroboh sekali. Masih banyak umpatan yang disimpan Pak Wawan. Dengan sangat terpaksa, teorinya tentang sarapan mesti dikecualikan. Hari itu, ia berangkat tanpa sarapan. Kecuali, secangkir teh manis hangat.

Tak ada marah memang. Hanya ungkapan kesal dengan tampilan wajah cemberut yang diperlihatkan Pak Wawan. Tapi, buat isteri Pak Wawan, itu saja sudah cukup buat ungkapan protes. Setelah itu, biasanya ia menangis. Entah pikiran apa yang berkecamuk. Sepertinya, ada protes melawan protes. Untuk beberapa hari, biasanya Pak Wawan dan isteri tak saling sapa.

Apa yang salah. Pak Wawan sempat terkurung dalam kebingungan selama beberapa bulan. Sungguh waktu yang lumayan lama buat masalah yang terkesan sepele.

Awalnya, Pak Wawan selalu menganggap isterinya salah. Lebih dari itu, sempat terbersit sebuah penyesalan. Tapi, itu hanya terlintas beberapa detik. Kemudian tergerus dengan sebuah kesadaran. Bahwa, sudut pandang masalah bisa ditakar dari dua arah. Tidak satu seperti yang selama ini terjadi.

Boleh jadi, yang justru bermasalah adalah Pak Wawan sendiri. Lho? Itulah yang kini ia rasakan. Ia mencoba melihat ke belakang. Sebelum ini, Pak Wawan memang tergolong orang yang selalu menakar sesuatu dengan ukuran sempurna. Itulah yang ia dapatkan dari orang tuanya. Selalu terbaik, dan menghasilkan yang terbaik. Rapi, teratur, dan tanpa cacat adalah doktrin yang selalu ia terima. Tak heran, jika mengalir sesuatu dalam bingkai pemikiran Pak Wawan: harus selalu sempurna.

Mungkin, hal itulah yang selama ini membuat Pak Wawan agak tersingkir dari pergaulan. Ia selalu bikin kikuk teman-temannya. Mereka seperti mengambil jarak. Khawatir, kalau-kalau terlalu rendah di mata Pak Wawan.

Lalu, seperti itukah yang kini terjadi dalam rumah tangga Pak Wawan. Sebuah kesenjangan antara idealita dengan realita. Bahkan, bisa dibilang pertarungan. Kalau itu yang terjadi, keseimbangan sulit terjadi. Dan keharmonisan cuma jadi cita-cita.

Bagaimana mungkin ada pertemuan dua ujung yang saling bertolak belakang. Harus ada penyesuaian. Itu secara teoritis. Kenyataannya, Pak Wawan agak lalai dengan keadaan rumah tangganya. Ia lupa kalau seorang isteri adalah wanita yang punya tenaga terbatas. Bagaimana mungkin bisa sempurna dengan sarana yang serba tidak sempurna. Sulit mengurus tiga balita tanpa pembantu rumah tangga. Dan soal masak, memang masih barang baru buat isteri Pak Wawan yang semasa lajang terlalu aktif di luar rumah. Wajar kalau sempat terjadi kurang garam.

Jadi, kini terpulang pada Pak Wawan. Seperti apa takaran yang ia tentukan. Salah-salah, masakan hidup berumah tangga menjadi bukan sekadar kurang garam. Tapi, tak bisa dicicipi sama sekali karena tidak pernah matang.

(muhammadnuh@eramuslim.com)

Lawan Kencing Manis dengan Buncis


Lawan Kencing Manis dengan Buncis

PENYAKIT kencing manis atau bahasa keren-nya diabetes melitus banyak diidap orang Indonesia. Seorang penderita diabetes melitus memiliki kadar gula dalam darah yang tinggi sehingga si penderita harus hati-hati dalam menerapkan pola makan. Dokter pun sering menganjurkan agar penderita disiplin dalam mengonsumsi obat, berdiet, dan melakukan olah raga, serta menjauhi stres.

Banyak memang obat yang beredar di pasaran untuk mengobati diabetes tersebut, namun sering harganya mahal karena bahan-bahannya haruslah diimpor. Bagaimana mau menjauhi stres jika untuk membeli obat yang harganya selangit saja susah.

 Beruntung, kini telah ditemukan obat yang murah meriah dan dapat diperoleh dengan mudah. Di pasar-pasar tradisional yang becek ketika hujan dan penuh debu saat musim kemarau, “obat” ini bisa dengan mudah didapatkan. Di supermarket-supermarket pun ada, tapi kalau mau lebih murah memang lebih baik memilih di pasar tradisional. Kalau malas bepergian, kita cukup menunggu tukang sayur yang lewat depan rumah.

 Lalu “obat” apa yang murah meriah itu? BUNCIS. Ya, tepat. Tanaman yang buahnya mirip kacang panjang, tapi lebih pendek dan gemuk itu ternyata mampu mengobati penyakit diabetes melitus.

Hal tersebut terungkap dalam disertasi Yayuk Andayani, yang telah mempresentasikan penelitiannya berjudul “Mekanisme Aktivitas Antihiperglikemik Ekstrak Buncis pada Tikus Diabetes dan Identifikasi Komponen Aktif” untuk memperoleh gelar doktor di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga, beberapa waktu lalu.

 Dalam penelitiannya, Yayuk menggunakan tikus putih sebagai binatang percobaan.Tikus putih berusia tiga bulan itu oleh Yayuk diberi perlakuan induksi diabetes. Artinya, “dengan sengaja” si tikus putih dibuat mengidap diabetes melitus. Sebelum diinjeksi dengan diabetes, tikus tersebut telah diberi ekstrak buncis.

Ternyata dalam waktu 30 menit setelah “dengan sengaja” dibuat menderita diabetes, tekanan gula darah tikus-tikus percobaan kembali normal, tanpa mengalami penurunan pada tingkat hipoglikemik (dibawah kadar gula normal-red.).

 Timbul pertanyaan, apa sih “kesaktian” buncis sehingga hanya dalam waktu setengah jam bisa menurunkan kadar gula dalam darah hingga batas normal.

Berdasar analisis Yayuk, di dalam buncis terkandung zat yang dinamakan :    “B-sitosterol dan stigmasterol”.

Kedua zat inilah yang mampu meningkatkan produksi insulin. Insulin adalah suatu hormon yang dihasilkan secara alamiah oleh tubuh kita dari organ tubuh yang dinamakan pankreas. Insulin berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Seseorang mengalami diabetes melitus bila pankreas hanya sedikit menghasilkan insulin atau tidak mampu memproduksi sama sekali.

Ternyata dua zat tadi mampu merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi insulinnya. Selain dua zat tadi, Yayuk memperoleh data bahwa dari 100 gram ekstrak buncis terkandung karbohidrat 7,81 persen, lemak 0,28 persen, protein 1,77 persen, serat kasar 2,07 persen, dan kadar abu 0,32 persen.

Bagi dunia kedokteran dan farmasi, penemuan Yayuk ini tentu bisa dijadikan referensi untuk membuat obat diabetes dengan mengekstrak buncis. Tentunya banyak keuntungan yang diperoleh, terutama bagi masyarakat, karena obat diabetes akan lebih murah dan mudah didapat dengan banyaknya bahan yang tersedia.

 Bagi masyarakat, terobosan Yayuk itu bisa melegakan hati banyak orang pengidap diabetes melitus, khususnya mereka dari kalangan tidak mampu.

Cukup membeli sayur buncis dan memakannya secara teratur, kadar gula dalam darah bisa turun. Pengolahannya pun tidak sembarangan. Manfaat buncis lebih terasa bila dimakan sebagai lalapan. Kalau dimasak dalam bentuk oseng-oseng, dengan tambahan daging, tentunya sama saja.

 Berbahagialah mereka yang kerap makan lalapan buncis. Ternyata selain manis, buncis juga bisa mencegah dan menghilangkan penyakit kencing manis. Mau coba?

 

Sakit Jantung dan Minum Air Hangat….


Sakit Jantung dan Minum Air Hangat….

Artikel ini sangat bagus. Tidak hanya mengenai minum air hangat setelah makan, tapi juga tentang serangan jantung. Ini masuk akal… orang Cina dan  orang Jepang minum teh panas dengan makanan mereka.. bukan air dingin..

mungkin sudah waktunya kita mengadaptasi kebiasaan minum air hangat seperti mereka..Tidak rugi.. malah untung..

Untuk mereka yang suka minum air dingin, artikel ini cocok untuk anda.

Memang enak untuk minum secangkir minuman dingin setelah makan. Tapi, air dingin akan mengeraskan makanan berminyak yang baru saja dimakan. Dan memperlambat pencernaan makanan. Ketika endapan ini bereaksi dengan asam lambung, endapan akan terpecah dan diserap oleh usus lebih cepat daripada makanan padat. Ini akan memenuhi usus. Sebentar saja, ini akan berubah menjadi lemak dan bisa mengakibatkan kanker.

Paling baik meminum/memakan sup panas atau air hangat setelah makan. Catatan serius mengenai serangan jantung: Tidak semua gejala searngan jantung adalah sakit pada lengan kiri. Waspadalah jika ada rasa sakit yang terus menerus pada rahang.

Mungkin kita tidak akan mengalami rasa sakit dada pertama ketika terjadinya serangan jantung. Rasa mual dan keringat yang berlebihan juga adalah gejala yang umum dijumpai. 60% dari mereka yang terkena serangan jantung ketika tidur tidak terbangun.

Rasa sakit di rahang bisa membangunkan kita dari tidur nyenyak. Berhati-hatilah dan berwaspada. Semakin banyak kita tahu, semakin baik kesempatan kita untuk selamat.

Seorang ahli jantung mengatakan jika mereka yang mendapatkan email ini mengirimkannya lagi ke 10 orang lainnya, kita bisa menyelamatkan sedikitnya 1 nyawa. Bacalah, ini bisa menyelamatkan hidup anda.

Jadilah teman sejati dan kirimkan artikel ini ke semua teman yang kamu sayangi.