Teh Kontrol Gula Darah?


SIGNIFIKAN: Konsumsi teh yang diracik khusus dari Afrika, penelitian menunjukkan adanya peningkatan toleransi glukosa pada pasien diabetes tipe 2.

SIGNIFIKAN: Konsumsi teh yang diracik khusus dari Afrika, penelitian menunjukkan adanya peningkatan toleransi glukosa pada pasien diabetes tipe 2.

Mengontrol gula kadar dengan menyeruput secangkir teh hangat? Tentunya akan menyenangkan. Para peneliti meyakini hal itu dapat dilakukan terutama dengan menggunakan teh asal Afrika.

Sebuah tim peneliti asal Denmark tengah mengembangkan perawatan untuk penyakit diabetes tipe 2 dengan bantuan teh Afrika khusus yang diproduksi dari ekstrk daun Rauvolfia Vomitoria dan buah  jeruk aurantium.

Para peneliti baru-baru ini baru saja menyelesaikan percobaan klinis yang dilakukan terhadap 23 pasien dengan diabetes tipe 2 dan merasa puas dengan hasil yang diperoleh.

“Para subjek penelitian meminum 750 ml teah setiap hari. Teh itu tampaknya berbeda dari obat diabetes tipe 2 lainnya karena pada awalnya tidak terlihat mempengaruhi kandungan gula dalam darah. Namun, setelah empat bulan mengonsumsi teh tersebut, tampak peningkatan toleransi glukosa yang signifikan,” ujar pemimpin penelitian  dari Copenhagen Universitu, Joan Campbell-Tofte seperti dikutip dalam beatdiabetestype2.com, baru-baru ini.

Menurut para peneliti, studi tersebut juga menunjukkan perubahan pola pembentukan asam lemak pada pasien yang minum teh dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi.

“Pada pasien yang meminum teh, kadar asam lemak tak jenuh meningkat. Hal itu sangat baik karena membuat sel membran lebih mudah ditembus sehingga sel tubuh dapat menyerap lebih banyak glukosa dalam darah,” terangnya.

Sebelumnya, tim itu juga telah menguji teh dari Nigeria pada tikus percobaan. Hasilnya menunjukkan, setelah enam minggu menggunakan perawatan dengan teh Afrika dikombinasikan dengan pola makan rendah lemak terdapat perubahan kombinasi dan jumlah lemak pada mata dan perlindungan pankreas yang lemah.

Allah Mengujiku Dengan Empat Nyawa


Namanya Khairiyah. Ibu dari tiga anak ini Allah uji dengan cobaan yang luar biasa. Setelah suaminya meninggal, satu per satu, anak-anak tercinta yang masih balita pun pergi untuk selamanya.

Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.

Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. “Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!” ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.

Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan ‘aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. “Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga,” ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim. (mnh)

(Seperti dituturkan Bu Khairiyah, warga Setiabudi Jakarta, kepada Eramuslim)

Merawat Utang


merawat_utangUtang buat keluarga kadang mirip jamur. Tidak diharapkan tumbuh, tapi bisa muncul tiba-tiba. Bedanya, jamur tumbuh di tempat basah; tapi utang muncul di saat ‘kering’.

Kehidupan keluarga memang tak bisa lepas dengan persoalan uang. Makin dinamis sebuah keluarga, pergelutan dengan uang kian sengit. Di situlah persoalan mulai muncul. Karena tidak semua keluarga selalu ‘standby’ dengan yang namanya uang.

Pertanyaan berikutnya mulai membayang: mengurangi dinamisasi keluarga, atau cari pancuran baru agar uang tetap mengalir. Kalau pilihan pertama diambil, gerak keluarga jadi lambat. Tapi, jika yang kedua dipilih, jalan yang bisa diambil cuma satu: pinjam uang alias utang.

Masalahnya, tidak semua petinggi keluarga mampu menerjemahkan kata dinamika. Dinamika bukan lagi sebagai proses pengembangan dan investasi. Tapi menjadi gaya hidup. Dan ujung dari gaya hidup cuma satu: konsumerisme. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Pak Mul.

Bapak dua anak ini memang wajar kalau bingung. Pasalnya, pengeluaran rumah tangganya sering lebih besar dari pemasukan. Dari dua belas bulan, tidak separuhnya yang bisa impas. Selalu kurang. Dan bingung Pak Mul, justru berada pada posisi puncak ketika hari gajian datang. Aneh kan?

Buat orang kebanyakan, hari gajian bisa dibilang saat yang paling membahagiakan. Wajar. Karena di situlah segala kesulitan terpecahkan: bayaran sekolah anak-anak, belanja dapur, biaya listrik, telepon, ongkos mondar-mandir, dan mungkin sedikit utang.

Namun buat Pak Mul, justru pembayaran terakhirlah yang menyedot kebahagiaan hari gajian. Entah kenapa, anggaran utang bagi Pak Mul selalu di urutan tiga besar: belanja dapur, ongkos, utang. Apa gaji Pak Mul tergolong sangat kecil?

Kalau menggunakan ukuran UMR atau upah terkecil daerah setempat, bisa dibilang gaji Pak Mul lumayan besar. Berkisar antara dua koma delapan hingga tiga juta rupiah. Tergolong cukup buat keluarga beranak dua. Apalagi, baru satu anaknya yang sekolah. Itu pun di bangku TK. Biaya rutinnya biasa seperti keluarga lain: dapur, ongkos, listrik, susu anak-anak, dan kontrak rumah. Memang ada satu yang terpisah, yaitu telepon. Pasalnya, Pak Mul dan isteri menggunakan hand-phone.

Lalu, pengeluaran mana yang selalu menghasilkan utang? Itulah yang sering membingungkan Pak Mul. Yang jelas, isterinya selalu memberi laporan minus di akhir bulan. Kadang sepuluh, dua puluh, bahkan bisa tiga puluh persen dari gaji per bulan.

Pak Mul tidak pernah buruk sangka dengan isteri tercinta. Tidak pernah terpikir kalau isterinya bikin laporan palsu. Justru, ia kerap mengoreksi diri. Ia jadi kasihan sama isteri dan anak-anaknya. Memang, gaji segitu masih jauh dari layak buat keluarga di kota besar. Jangankan mikirin sekolah top buat anak-anak di tahun depan, buat hidup normal saja bingung seperti ini.

Di tiap gajian itulah, Pak Mul menyimpan bingungnya buat dirinya sendiri. Ia tidak ingin isterinya yang sudah repot-repot ngatur anggaran, mesti ikut mikirin uang tambahan. Pokoknya, kalau ada yang kurang, jawaban buat isteri Pak Mul cuma satu: diganti. Lha, Pak Mul dapat duit darimana? Soal itu pun jawabannya juga cuma satu: utang.

Ada beberapa sumber yang bisa digali Pak Mul. Bisa ke kantor, teman dekat, kakak atau adik, bahkan tetangga. Ketika pinjam uang itulah, Pak Mul memohon agar tidak disampaikan ke isterinya. Sekali lagi, karena kasihan. Yang diketahui isterinya, Pak Mul menutup kekurangan itu dari penghasilan tambahan. Bisa ngajar privat, minta lembur kantor; bahkan, dan inilah yang tidak pernah diketahui orang banyak termasuk isterinya: ngojek motor. Yang penting halal dan bermartabat.

Model pinjaman Pak Mul sudah membentuk lingkaran. Dari kantor buat bayar teman dekat. Dari teman dekat buat bayar kakak. Dan seterusnya. Orang biasa menyebut: gali lubang, tutup lubang, dan gali lagi. Bahkan pernah, Pak Mul lebih banyak menggali daripada menutup. Tapi syukurnya, bapak yang lebih banyak senyum dari marahnya ini tidak pernah kecebur lubang.

Seorang teman Pak Mul pernah ngasih nasihat. Isinya, Pak Mul diminta menanyakan ke isteri soal pengeluaran yang selalu kurang. Ketika Pak Mul menjawab kasihan; sang teman menambahkan, bisa jadi ada porsi pengeluaran yang kurang wajar. Kurang wajar? Ah, penghasilan saya yang kurang wajar! Jawab hati Pak Mul, prihatin.

Nasihat apa pun kalau sudah berurusan uang dan isteri, Pak Mul cuma bisa ngelus dada. Kadang ia menangis ketika menyaksikan isterinya sibuk seharian di rumah: belanja, masak, nyuci baju, ngurus rumah, mendidik anak. Tanpa pembantu. Apalagi baby sitter.

Ingin rasanya ia bisa berangkat kerja tidak terlalu pagi, dan pulang ke rumah tidak terlalu malam. Agar, bisa bantu meringankan kerjaan isteri. Dan kalau pun libur, waktunya nyaris habis buat kegiatan sosial. Ada pengajian, rapat organisasi, kerja bakti, bakti sosial, dan lain-lain. Hanya nyuci baju yang berhasil ia lakukan selama seminggu sekali.

Minggu pagi itu begitu cerah ketika isteri Pak Mul mengajak bicara. “Saya mau kerja, Mas,” ujarnya singkat. Mendengar itu, Pak Mul trenyuh. Air matanya nyaris menitik.

Hati-hati, Pak Mul berujar, “Apa kamu tidak capek, Dik?” Isterinya tampak senyum. “Kita bisa cari pembantu, Mas. Buat ngurus rumah dan anak-anak.” Pak Mul mulai menunduk. “Ada satu lagi, Mas, kenapa saya ingin kerja,” ucap sang isteri. “Apa, Dik?” tanya Pak Mul kian prihatin. “Supaya saya bisa punya slip gaji. Soalnya, saya ingin sekali bikin kartu kredit. Supaya belanja apa saja nggak repot-repot!”

Mendengar itu, Pak Mul diam seribu bahasa. Ia bingung, harus nangis atau kembali bingung.

eramuslim.com

7 Sumber Ide Bisnis


7 Sumber Ide Bisnis

7 sumber ide bisnis

7 sumber ide bisnis

Ide bisnis ada di sekitar Anda. Beberapa ide bisnis muncul dari analisa pasar dan kebutuhan konsumen yang sangat detil; lainya berasal dari proses pencarian yang panjang. Jika Anda tertarik memulai usaha, tapi tidak tahu produk atau jasa apa yang Anda jual, dengan mengeksplore beberapa cara ini akan membantu Anda untuk memilih.

1) Menguji ketrampilan Anda dalam mempersiapkan ide usaha

Apakah Anda memiliki bakat atau catatan yang  terbukti bisa diandalkan yang bisa menjadi dasar usaha yang menguntungkan?

Beberapa hari yang lalu, saya berbicara dengan seseorang yang mengelola jasa kebersihan di rumah sakit selama bertahun-tahun. Saat ini dia berhasil menjalankan usahanya sendiri dibidang layanan kebersihan.  Mantan penebang kayu yang saya kenal saat ini mendapatkan penghasilan sebagai seorang seniman; dia menciptakan  “chainsaw sculptures” dari kayu.

Untuk menemukan ide bisnis yang bisa dijalankan, tanyakan pada diri Anda, “Apa yang sudah saya kerjakan? Apa yang bisa saya kerjakan? Akankan orang bersedia membayar produk atau jasa saya?”

2) Mengetahui informasi terbaru dan siap mengambil peluang usaha

Jika Anda rutin membaca atau melihat berita dengan tujuan menemukan ide bisnis, Anda akan terkejut dengan banyaknya  peluang bisnis yang diciptakan oleh otak Anda. Mengetahui berita terbaru akan membantu Anda mengidentifikasi kecenderungan pasar, mode baru, berita industri – dan terkadang beberapa ide baru dalam peluang usaha.

3) Menemukan produk atau jasa baru

Kembali berpikir 30 tahun yang lalu.  Adakah permintaan software anti virus yang besar, Internet Service Provider, atau komputer desktop? Tidak! Kunci ide bisnis untuk produk atau layanan baru adalah dengan mengetahui kebutuhan pasar yang belum dipenuhi.  Kebutuhan keamanan yang meningkat, misalnya, telah mengarahkan pada ledakan produk atau jasa keamana baru, mulai dari mesin penindai mata sampai jasa keamanan rumah.

Lihat sekeliling dan tanyakan diri Anda, “Bagaimana situasi ini bisa diperbaiki?” Tanyakan pada orang lain tambahan jasa yang mereka inginkan. Fokus pada target market dan brainstorming ide layanan yang diminati kelompok.  Misalnya, orang usia lanjut yang berkebun di Amerika Utara. Produk atau jasa apa yang bisa Anda ciptakan sehingga mereka bisa berkebun lebih lama dan lebih mudah ?

4) Menambahkan nilai pada produk yang sudah ada

Perbedaan antara kayu mentah dan olahan adalah contoh yang baik untuk meletakkan produk dalam proses tambahan yang bisa menambahkan nilai, tapi proses tambahan bukanlah satu-satunya cara untuk memberikan nilai tambah. Anda bisa menambahkan servis, atau menggabungkan produk satu dengan produk yang lain. Misalnya, sebuah perkebunan lokal juga menawarkan layanan antar sayuran yang dihasilkan; dengan mengirimkan sekotak sayuran segar yang diantar kerumah pelanggan setiap minggunya.

Ide bisnis yang bagaimana yang bisa Anda kembangkan? Fokus pada produk  apa yang ingin Anda beli dan apa yang bisa Anda lakukan terhadapnya atau memberikan penambahan untuk menciptakan bisnis yang menguntungkan.

Setelah Anda mengembangkan kerangka kewirausahaan dalam pikiran, Anda akan melihat bahwa menemukan ide bisnis semudah menemukan daun di pohon.

5) Investigasi pasar lainnya

Beberapa ide bisnis tidak sesuai dengan konsumsi lokal tapi sangat menarik pasar luar negeri. Kota kecil dimana saya tinggal dikelilingi oleh ladang blueberry liar. Selama bertahun-tahun tanaman tersebut menjadi sasaran makanan burung dan beruang; B.C. yang memiliki industri blueberry yang berkembang tidak meninggalkan ruang kosong untuk pasar blueberry liar. Tapi seorang pengusaha menyadari adanya permintaan yang tinggi terhadap produk tersebut seperti Jepang – dan saat ini blueberry sejenis dipanen dan dikapalkan.  Menemukan budaya lain dan mencari peluang pasar lain adalah cara yang baik untuk menemukan ide bisnis.

6) Meningkatkan produk atau jasa yang sudah ada

Anda tahu apa yang dikatakan orang lain pada orang yang mengembangkan perangkap tikus. Bisa jadi Andalah orangnya! Seorang pengusaha lokal telah menciptakan hula hoop versi terbau; lebih besar dan berat sehingga pengguna bisa mengendalikannya dengan mudah dan melakukan banyak trik. Bagaimana ide bisnis ini muncul? Menurutnya, bermain hula hoop adalah hal yang menyenangkan jika dimainkan dengan anak perempuannya.

Ada beberapa produk (atau jasa) yang tidak bisa ditingkatkan. Mulai mengelola ide bisnis dengan melihat produk atau jasa yang Anda gunakan dan brainstorming ide untuk melihat bagaimana bisa mengembangkannya.  .

7) Mengendarai “Kereta Musik”

Terkadang pasar bergejolak dengan alasan yang tidak jelas; banyak orang yang tiba-tiba “menginginkan” sesuatu, dan hasilnya, permintaan tidak bisa segera dipenuhi.  Misalnya, saat  epidemi SARS, adanya permintaan masker yang tidak ada habis-habisnya di beberapa negara- dan banyak pengusaha yang memanfaatkan ide bisnis ini.

“Dampak kereta musik” juga diciptakan oleh tren sosial yang lebih besar. Ada banyak permintaan layanan perawatan di rumah untuk orang lanjut usia daripada jasa yang tersedia. Dan tren memperlakukan binatang peliharaan sebagai anggota keluarga juga berlanjut, menciptakan pasar untuk jasa yang terkait dengan hewan peluharaan yang tidak ada sepuluh tahun yang lalu.

Lihat bisnis dan produk serta layanan yang mereka tawarkan dan tentukan jika ada kebutuhan yang lebih terhadap produk atau jasa tersebut. Jika ada, kembangkan ide bisnis untuk memenuhi gap pasar.

Apakah Anda sudah memiliki ide yang meluap-luap sekarang? Tuliskan ide bisnis Anda. Berpikiran terbuka dan terus menilai segala sesuatu yang Anda baca dan dengar dari pandangan pengusaha. Anda tidak ingin menjalankan ide bisnis yang pertama kali Anda pikirkan; Anda ingin menemukan ide terbaik yang sesuai dengan ketrampilan dan hasrat Anda. Mimpikan, pikirkan, rencanakan – dan Anda akan siap mewujudkan ide bisnis kedalam usaha yang Anda inginkan.

***

Sumber: www.about.com
Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusahamuslim.com

Pulang


pulang

pulang

Dua orang pegawai tampak masih sibuk pada pekerjaannya, meski malam sudah mengisyaratkan mereka untuk istirahat. Di gedung megah yang sehari-hari menjadi kantor tempat mereka berkerja itu sudah tidak ada lagi pegawai. Kecuali, petugas keamanan malam.

Salah seorang yang bertubuh kurus pun berujar, ”Ah, hari yang melelahkan. Saatnya pulang ke rumah.”

Seorang yang agak gemuk hanya menoleh sebentar, kemudian kembali dengan kesibukannya. Ia hanya membalas ucapan temannya yang mulai berkemas dengan senyum. “Aku lembur lagi!” ucapnya singkat.

“Apa kamu tidak kangen dengan isteri dan anak-anakmu?” tanya si kurus mulai beranjak menuju pintu.

”Entahlah, aku merasa lebih nyaman berada di sini,” jawab si gemuk sambil terus sibuk dengan pekerjaannya. ”Ruangan ini sudah seperti rumahku,” tambahnya begitu meyakinkan.

Si kurus menatap temannya begitu lekat. Sebelum langkah kakinya meninggalkan sang teman, ia tergelitik untuk mengucapkan sesuatu, ”Menurutku, kamu bukan tidak ingin pulang. Tapi, kamu belum paham apa arti pulang.”

**
Angan-angan sederhana yang kerap muncul di kepala siapa pun ketika ia begitu lama berada di luar rumah adalah pulang. Seorang pejabatkah, pegawaikah, pengusahakah, pelajar dan mahasiswakah; titik akhir dari akumulasi kelelahannya berinteraksi dengan dinamika hidup selalu tertuju pada pulang.

Kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan-kerinduan dengan sesuatu yang sudah menjadi ikatan kuat dalam diri seseorang. Sesuatu yang tidak mungkin untuk dipisahkan, karena dari situlah ia berasal dan di situ pula ia menemukan jati dirinya.

Dalam skala hidup yang lebih luas, pulang adalah kembalinya manusia pada asalnya yang tidak mungkin dielakkan. Apa dan bagaimana pun keadaannya, suka atau tidak pun rasa ingin pulangnya, jauh atau dekat pun perginya, dan ada atau tidaknya kerinduan terhadap arah pulang yang satu ini; setiap kita pasti akan ’pulang’.

Walaupun, tidak sedikit orang yang merasa lebih nyaman berada di dunia ini daripada berhasrat menuju ’pulang’. Persis seperti yang diungkapkan si kurus kepada temannya, ”Kita bukan tidak ingin ’pulang’. Tapi, kita mungkin belum memahami arti ’pulang’.”
@eramuslim.com