Bentuk Kenikmatan Dunia



Bentuk Kenikmatan Dunia

Betapa banyak manusia menjadi lupa. Betapa banyak manusia menjadi ingkar. Betapa banyak manusia tidak dapat bersyukur. Betapa banyak manusia menjadi durhaka dan berkhianat. Mereka melupakan tujuan hidupnya dan hanya mengejar kenikmatan dunia. Dunia yang akan berakhir. Tempat manusia hidup. Tempat manusia memuja kenikmatan. Semuanya menjadi sia-sia belaka.

Dalam kehidupan ini ada bertingkat-tingkat tentang kenikmatan dunia. Manusia berlomba mengejar, hingga kepayahan, dan umurnya habis, dan hidupnya tersungkur, hanya diarahkan mengejar kenikmatan dunia. Tak ada kenikmatan yang sejati. Kenikmatan yang diinginkan manusia dalam kehidupan itu hanyalah kenikmatan yang semu. Ilusi. Khayalan dari manusia yang sudah orientasi hidupnya hanya untuk kenikmatan dan kemegahan.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan yang teragung dan terbesar, yaitu kenikmatan yang mengantarkan pada kenikmatan akhirat. Kenikmatan akhirat itulah yang akan membawa hamba kepada kemuliaan yang kekal. Karena itu, hakekatnya seorang mukmin, tidak mengejar kenikmatan dunia, yang tidak memiliki arti apa-apa, dibandingkan dengan kenikmatan berupa kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla.

Tidak ada artinya kenikmatan dan kelezatan dunia seisinya, yang banyak membuat manusia menjadi lupa dan mabuk, sehingga terlena dengan kehidupan dunia. Kehidupan manusia yang sudah mabuk dunia itu, menjadi sujud, rukuk, dan ibadahnya hanya untuk memenuhi rasa kenikmatan dunia.

Hanyalah orang-orang mukmin, yang layak mendapatkan kenikmatan, yang sejati, karena pahala Allah Rabbul alamin, selalu mengalir, ketika mereka makan, minum, berpakaian, tidur, terjaga, dan dalam pernikahannya, dan semua amal mereka semata hanya diarahkan untuk mendapatkan ridho-Nya. Tidak mencari ridho selain-Nya. Apalagi, hanya ingin mendapatkan ridho kepada manusia lainnya, yang dapat memberinya kenikmatan dunia. Itu bukan sifat mukmin yang hakiki.

Orang-orang mukmin kerinduan hanya pada kenikmatan atas keimanannya, ibadahnya, kerinduannya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan dunia itu, selalu akan menghalangi seseorang memperoleh kenikmatan akhirat dan bahkan mengantarkan kepada siksa. Manusia yang orientasinya kepada kenikmatan dunia, akhirnya menjadikan benda-benda, jabatan, kekuasaan, dan makhluk-makhluk, serta berbagai bentuk berhala-hala, yang menyerupai tuhan, menjadi arah dan tujuan hidup mereka. Seakan semua yang ada itu, mampu memberikan kenikmatan kepada manusia yang bersifat kekal. Karena itu, ketika diakhirat mereka saling mencerca dan menyalahkan.

“ .. Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami, ‘Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). ‘Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (al-An’aam : 128-129).

Kelezatan dan kenikmatan orang yang berbuat zalim dan keji merupakan istidraj (tangga tahapan pengahancuran),yang diberikan Allah agar mereka merasakan siksa yang lebih berat dan mereka akan terlarang untuk merasakan kenikmatan yang paling agung. Seperti orang yang menyodorkan makan yang enak dan dibubuhi racur agar orang yang memakannya mati secara peralahan-lahan.

Allah berfirman:

“ .. Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) ari arah yang tidak mereka ketahui. Dan, Aku memberi tangguh, kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh”. (al-Qalam : 44-45).

Sebagian salaf menafsirkan inna kaidi matin (rencana-Ku amat tangguh), maksudnya adalah setiap kali mereka melakukan dosa, maka Kami akan memberikan nikmat mereka. Itulah bagi orang-orang yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dunia.

Sebaliknya, seorang yang sangat takut dengan kehidupan dunia, dan hidupnya zuhud dan wara’, ketika meninggal rombongan Malaikat suci, hamba-hamba Allah yang sangat dekat kepada-Nya, datang menjemputnya menuju tempat, yang abadi kekal, selamanya, surga Allah taman Firdausi. Itulah akhir kehidupan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kebahagiaan di kampung akhirat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang taqwa”. (al-Qashas : 83). Wallahu’alam.

Sumber : Mashadi / eramuslim.com

Profesor Amerika Masuk Islam di Saudi



Profesor Amerika Masuk Islam di Saudi


Prof AmerikaSumber dari media Timur Tengah mengatakan bahwa seorang profesor dari Universitas Amerika menyatakan dirinya masuk Islam di sebuah masjid di sekretariat majelis pemuda muslim dunia di ibukota Saudi Riyadh hari Senin kemarin (22/2).

Surat kabar Al-Jazeera melaporkan bahwa profesor Amerika tersebut merupakan dosen bahasa Inggris untuk mahasiswa pada tahun persiapan di universitas King Saud University, dan setelah dirinya menyatakan masuk Islam, ia diberi nama Islam dengan nama Shalahuddin (Saladin).

Surat kabar Al-Jazeera menyatakan bahwa profesor Amerika itu telah berada di Riyadh sejak empat bulan yang lalu, dan ia mengatakan bahwa ia sangat menikmati hubungan persahabatan dan sosial yang ada di universitas dan dunia akademis.

Dikutip oleh Al-Jazeera, profesor universitas dari Amerika ini menegaskan bahwa keinginan dirinya untuk masuk Islam datang dari keyakinannya yang totalitas terhadap Islam, ketika ia menemukan kepuasan spriritual dalam jiwanya dan ketenangan hatinya dalam Islam.

Profesor Amerika tersebut menjelaskan bahwa temannya yang seorang muslim Inggris asal India yang telah banyak membantu dirinya mengenal Islam melalui beberapa buku dan publikasi tentang dasar-dasar Islam yang memberikan ia pemahaman terkait prinsip-prinsip Islam serta membantu dirinya memahami agama baru bagi dirinya itu lebih baik lagi. (fq/imo)

Sumber : eramuslim.com

Janji Kemenangan Islam


Janji Kemenangan Islam

Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia


Bagaimana syariah bisa tegak bila masyarakat perutnya lapar!” Begitu, kata sebagian orang.  Memang, harus diakui bahwa langkah perjuangan bukanlah hal mudah.  Penuh kesulitan.  Bukan sekadar masalah ekonomi, setumpuk masalah lain pun terus menimpa.  Sebut saja secara internal, kondisi ekonomi umat Islam masih terpuruk.  Kemiskinan masih di atas 35 juta jiwa.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Hermawan, angka kemiskinan ini hingga 2010 diprediksi tidak akan jauh berbeda dengan angka kemiskinan tahun ini.  Hanya saja, kondisi ini sejatinya justru menjadi dorongan besar untuk berjuang lebih sungguh-sungguh.  Sebab, tanpa perubahan sistem dan orang niscaya kondisi tak akan pernah beranjak.  Tengoklah para pendukung dakwah para Nabi banyak dari kalangan miskin, misalnya Bilal bin Rabah, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.

Selain itu, ada sikap kaum Muslim yang menerima keadaan, puas dengan kondisi yang ada.  Bahkan, mengatakan sistem yang ada sudah final.  Perjuangan pun jalan sendiri-sendiri.  Upaya penyatuan langkah sering kali kandas di tengah pragmatisme.  Akhirnya, tidak jarang pihak yang disebut ulama dan tokoh Islam mendiamkan kemungkaran.  Sebagai contoh kecil, tak banyak kalangan Islam yang bersuara terkait skandal century gate.

Pada sisi lain, penguasa kini semakin liberal dan pro Barat (west friendly).  Sampai-sampai merasa perlu membuat patung Obama.  Padahal, dialah yang menumpahkan darah kaum Muslim di Afghanistan dan Pakistan sekarang.  Suara kritis dari parlemen hilang karena partai-partai berkoalisi menjadi pendukung partai penguasa.

Kini, tengah ada upaya untuk merubah UU Antiterorisme sedemikian rupa sehingga “Penindakan harus dimulai  sejak tahap provokasi & eksploitasi radikalisme”.  Dengan kata lain, Internal Security Act (ISA) seperti di Malaysia sedang dijajaki untuk dihidupkan.  Hal ini dapat bersifat liar menjadi kriminalisasi pendakwah.  Dari eksternal pun tantangan luar negeri masih besar.Melihat kondisi demikian, haruskah pesimis?  Jawabannya tegas: tidak!  Sebaliknya, kaum Mukmin harus selalu optimis.  Mengapa?

Pertama, kesulitan merupakan sunnatullah dalam perjuangan.  Allah SWT menegaskan: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (TQS. al-Baqarah[2]:214).  Imam al-Qurthubi memaknai bahwa mereka ditimpa kebutuhan dan keserbakurangan/kefakiran yang sangat, celaan dan malapetaka, serta keguncangan berupa tidak takut dan gentarnya musuh-musuh terhadap mereka.

Hal ini menjadikan mereka menyangka lambatnya pertolongan Allah.  Namun, justru dalam kondisi demikian Allah SWT menyatakan bahwa pertolongan-Nya dekat, Dia akan meninggikan kaum Mukmin di atas musuh-musuh mereka, memenangkannya, meninggikan kalimat-Nya,  memberikan janji yang telah diberikan-Nya kepada mereka, dan memadamkan api peperangan para musuhnya (Jami al-Bayan fi at-Ta`wil al-Quran, Juz IV, hal. 288).

Ini menunjukkan bahwa rasa pesimis yang hampir hinggap di dada para sahabat ditepis oleh Allah SWT.  Akhirnya, mereka pun kembali menyadari bahwa kesulitan merupakan pangkal keberhasilan.  Kesulitan merupakan sunnatullah dalam perjuangan.  Optimisme mereka pun kembali.

Kedua, Allah SWT menjanjikan kemenangan.  Di antara janji-Nya adalah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

“Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (TQS. an-Nur[24]:55).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan: “Ini adalah janji dari Allah kepada Rasul-Nya SAW.  Dia akan menjadikan umatnya sebagai para khalifah di bumi ini, yakni para pemimpin dan para wali bagi manusia.

Melalui merekalah berbagai negeri akan baik, pada merekalah para hamba akan tunduk.  Dia pun akan mengubah rasa takut mereka menjadi rasa aman dan keadilan pada mereka.  Allah telah membuktikan hal ini” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VI, hal. 77).  Janji ini akan kembali terbukti bagi umat Muhammad masa sekarang.

Ketiga, kini ada kelompok umat Islam yang teguh pada kebenaran, menyerukan Islam dengan sejujurnya.  Tidak sedikit para aktivisnya ditangkap karena dakwah yang dilakukannya.  Kata Nabi SAW, mereka yang tetap bersikap demikian akan mendapatkan kemenangan.  Realitas ini persis sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Akan selalu ada kelompok dari umatku yang berdiri di atas kebenaran, dan mereka dalam kemenangan.

Orang-orang yang menentang dan melawan mereka tidak akan membahayakan mereka hingga Allah Tabaroka wa Ta’ala mendatangkan kemenangan pada saat mereka dalam kondisi seperti itu (di atas kebenaran dan menang) (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Baihaqi).    Hadits ini mengajarkan hal penting untuk dilakukan adalah konsisten berada dalam kebenaran dan istiqamah menyerukannya.  Kesulitan apapun tak akan pernah membahayakan.  Dan, kemenangan hanya tinggal waktu saja.

Keempat, upaya menegakkan Islam secara kaffah makin mendapatkan sambutan, terlebih dari kalangan muda.  Bukan hanya berumur muda, mereka banyak dari kalangan mustadh’afin, juga berasal dari kalangan menengah.  Padahal, mustadh’afin, kalangan pemuda, dan kelas menengah merupakan ujung tombak perjuangan.

Hal ini mengingatkan kita pada perjuangan Nabi SAW yang juga didukung oleh kalangan ini.  Beliau didukung oleh mustadh’afin seperti Bilal, Abu Dzar, dan banyak mantan budak. Beliau sendiri diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada usia masih belia, 40 tahun.

Pendukung awal beliau  tercatat banyak dari kaum muda seperti Ali bin Abi Thalib (8), Thalhah bin Abdullah (11), Arqam bin Abi Arqam (12), Said bin Zaid (20), Saad bin Abi Waqash (17), Utsman bin Affan dan Khabab bin Art (20-an), Mush’ab bin Umair yang kelak menjadi utusan Nabi di Madinah (24), Umar bin Khathab (26), Bilal bin Robah (30), Abu Bakar (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), dll.

Sejarah kemanusiaan pun mencatat perubahan senantiasa dipelopori oleh kalangan muda.  Realitas ini meniscayakan optimisme dalam perjuangan.

Kelima, kebobrokan, ketidakadilan, korupsi, dan kezhaliman yang terus terjadi semakin menyadarkan masyarakat bahwa sistem sekulerisme, kapitalisme, dan demokrasi yang kini diterapkan tetap melanggengkan semua itu.  Muncul tuntutan sistem alternatif. Dan, sistem alternatif itu hanya satu: Islam.

Tidaklah mengherankan pertengahan 2009 tidak kurang hadir 7000 orang dalam acara Muktamar Ulama Nasional (MUN) di Istora Senayan, Jakarta.  Mereka adalah ulama yang datang dari berbagai daerah Indonesia.  Seruannya sama, jalan keselamatan manusia adalah penerapan syariah dan penyatuan dalam Khilafah.  Sambutan dari para ulama ini menggambarkan adanya harapan dan optimisme baru.

Jelaslah, secara imani, kemenangan tinggal menunggu waktu.  Secara faktual, kini sedang menggelinding perjuangan yang memadukan para ulama dan kaum muda dari kelas menengah ditopang oleh kekuatan mustadh’afin.   Sementara, kalangan atas mulai melirik Islam.  Hal ini meniscayakan makin bertambahnya optimisme dalam perjuangan menegakkan Islam.[]

Sumber : MediaUmat.com

Demi Mendapatkan Akhirat


Demi Mendapatkan Akhirat


Sebelum menjadi khalifah, Umar bin al-Khaththab ra biasa mencari nafkah dengan berdagang. Saat dibaiat menjadi khalifah, agar fokus bekerja mengurus dan melayani rakyat, beliau berhenti berdagang. Sebagai kompensasinya, Negara (melalui Baitul Mal), memberikan santunan ala kadarnya untuk beliau dan keluarga yang menjadi tanggungannya.

Suatu saat, sejumlah Sahabat di antaranya Utsman, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam dan Thalhah ra berunding untuk mengusulkan agar santunan untuk Khalifah Umar ra dinaikkan karena dianggap terlalu kecil. Namun, tidak ada seorang pun dari mereka yang berani mengajukan usul tersebut kepada Khalifah Umar ra yang terkenal sangat tegas dan ‘keras’. Mereka khawatir usulan itu tidak diterima.

Akhirnya, mereka menemui Hafshah ra, Ummul Mukminin, salah seorang istri Baginda Nabi SAW yang tidak lain putri Umar ra. Saat Hafsah menyampaikan pesan mereka terkait dengan usulan kenaikan santunan untuk Khalifah tersebut, Umar  tampak seperti menahan marah. Beliau dengan nada agak keras bertanya, “Siapa yang berani mengajukan usulan itu?”

Hafshah tidak segera menjawab, selain berkata, “Berikan dulu pendapat Ayah.”

Umar ra berkata, “Seandainya saya tahu nama-nama mereka, niscaya saya pukul wajah-wajah mereka!”

“Hafshah, sekarang coba engkau  ceritakan kepadaku tentang pakaian Nabi SAW yang paling baik, makanan paling lezat yang biasa beliau makan dan alas tidur paling bagus yang biasa beliau pakai di rumahmu,” kata Umar lagi.

Hafshah menjawab, “Pakaian terbaik beliau adalah sepasang baju berwarna merah yang biasa beliau pakai pada hari Jumat dan saat menerima tamu. Makanan terlezat beliau adalah roti yang terbuat dari tepung kasar yang dilumuri minyak. Tempat alas tidur terbagus beliau adalah sehelai kain agak tebal, yang pada musim panas kain itu dilipat empat dan pada musim dingin dilipat dua; separuh beliau jadikan alas tidur dan separuh lagi beliau jadikan selimut.”

“Sekarang, pergilah. Katakanlah kepada mereka, Rasulullah SAW telah mencontohkan hidup sangat sederhana dan merasa cukup dengan apa yang ada demi mendapatkan akhirat. Aku akan selalu mengikuti jejak beliau. Rasulullah, Abu Bakar dan aku bagaikan tiga orang musafir.

Musafir pertama telah sampai di tujuan seraya membawa perbekalannya. Demikian pula musafir kedua, telah berhasil menyusulnya dan sampai di tujuannya. Aku, musafir ketiga, masih sedang dalam perjalanan. Seandainya aku bisa mengikuti jejak keduanya, tentu aku akan bertemu dengan mereka. Sebaliknya, jika aku tidak mampu mengikuti jejak keduanya, aku tidak akan pernah bertemu mereka,” tegas Umar lagi.

Pada saat lain, ketika beliau sedang asyik makan roti, datanglah Utbah bin Abi Farqad ra. Utbah pun beliau persilakan masuk sekaligus beliau ajak untuk ikut makan roti bersama. Roti itu ternyata terlalu keras sehingga Uthbah tampak agak kesulitan memakannya. “Andai saja engkau membeli makanan dari tepung yang empuk,” kata Uthbah.

Khalifah Umar malah bertanya, “Apakah setiap rakyatku mampu membeli tepung dengan kualitas yang baik?”

“Tentu tidak,” jawab Uthbah ra.

“Kalau begitu, engkau telah menyuruhku untuk menghabiskan seluruh kenikmatan hidup di dunia ini,” tegas Umar.

*****

Itulah Khalifah Umar ra., penguasa Muslim yang wilayah kekuasaannya saat itu adalah seluruh jazirah Arab, Timur Tengah, bahkan sebagian Afrika. Kebe-saran kekuasan beliau tentu jauh lebih besar daripada kekuasaan para raja Arab saat ini.

Namun, semua itu ternyata tidak otomatis menjadikan beliau kaya-raya serta bergelimang harta dan kemewahan, sebagaimana para penguasa Arab saat ini; juga sebagaimana penguasa dan para pejabat Muslim di negeri ini, yang hampir setengah rakyatnya (sekitar 100 juta orang) tergolong miskin.

Sebetulnya, melihat pemandangan yang amat kontras antara kehidupan Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin salah satunya Khalifah Umar, yang penuh dengan kesederhanaan dan kezuhudan dengan para penguasa Muslim saat ini yang bergelimang harta dan kemewahan tidaklah terlalu mengejutkan.

Pasalnya, orientasi kedua jenis pemimpin ini memang berbeda: para pemimpin dulu orientasi hidupnya akhirat, sementara yang sekarang orientasi hidupnya hanya-lah dunia. Karena itu, saat ada usulan kenaikan gaji penguasa/pejabat, penguasa/pejabat sekarang menyambutnya dengan riang gembira.

Mereka tak mungkin marah seperti Khalifah Umar ra. Meski gaji dan tunjangan mereka sudah sangat luar biasa, mereka bahkan masih tetap berusaha mencari tambahan lain dengan cara-cara yang tidak wajar.  Akhirnya, korupsi menjadi pilihan, dan menerima suap pun amat doyan.

Masihkah kita tetap berharap kepada mereka, juga pada sistem sekuler yang terbukti banyak melahirkan para pemim-pin korup seperti mereka? Tidakkah kita rindu kepada para pemimpin seperti Khalifah Umar, juga pada sistem Khilafah yang terbukti banyak melahirkan para pemimpin zuhud dan warâ’ yang bekerja semata-mata demi mendapatkan akhirat?

[] arief b. Iskandar/ Media Umat.com

Menajamkan Mata Hati



Menajamkan Mata Hati


Suatu hari Baginda Rasulullah SAW melewati seorang sahabat yang sedang membaca Alquran. Sampailah ia pada ayat yang artinya: Jika langit terbelah dan memerah seperti kulit merah (TQS ar-Rahman [55]: 37). Seketika tubuhnya gemetar dan ia menangis seraya bergumam, “Duh, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit terbelah (terjadi kiamat)? Sungguh malang nasibku!” Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, “Tangisanmu menyebabkan para malaikat pun turut menangis.

Dikisahkan pula, Abdullah bin Rawahah ra suatu ketika tampak sedang menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirâth, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi, Fadhâ’il A’mâl, hlm. 565.)

Kisah-kisah semacam ini yang menggambarkan rasa takut para sahabat, juga generasi salafush-shalih, terhadap azab Allah SWT sangatlah banyak. Wajarlah jika mereka adalah orang-orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena begitu dahsyatnya rasa takut mereka kepada-Nya. Benarlah Fudhail bin Iyadh saat berkata, “Rasa takut kepada Allah SWT selamanya akan membawa kebaikan.”

*****

Bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sayang, rasa takut kepada Allah SWT sepertinya begitu sulit tumbuh pada kebanyakan kita. Yang terjadi sering sebaliknya. Kita seolah-olah menjadi orang yang paling berani menghadapi azab Allah SWT kelak pada Hari Kiamat. Bagaimana tidak? Perilaku kebanyakan kita menunjukkan demikian.

Menerapkan hukum-hukum kufur, mencampakkan hukum-hukum Allah, menerapkan hukum secara tidak adil dan berlaku lalim terhadap rakyat tak lagi dipandang sebagai maksiat. Korupsi, kolusi dan suap-menyuap tak lagi dipandang sebagai dosa. Riba, judi, dan berlaku curang dalam bisnis tak lagi dianggap tindakan salah. Mengobral aurat, bergaul bebas, selingkuh dan zina tak lagi dipandang sebagai perbuatan laknat.

Demikian seterusnya. Perilaku demikian nyata sekali menunjukkan bahwa kebanyakan generasi Muslim saat ini adalah orang-orang yang berani menantang azab Allah SWT yang sesungguhnya mahadahsyat! Padahal jika ada setitik saja pada diri kita rasa takut kepada Allah SWT, kita tentu akan selalu berusaha meninggalkan semua perbuatan terkutuk tersebut.

Sepantasnyalah kita malu dengan generasi shalafush-shalih sebagaimana direpresantasikan oleh secuil kisah sahabat di atas. Bagaimana tidak. Sebagian mereka sudah mendapatkan jaminan Allah SWT untuk masuk surga. Namun, toh rasa khawatir dan takut kepada Allah SWT yang luar biasa sering menyelimuti sebagian besar kalbu mereka.

Simaklah kembali kekhawatiran dan rasa takut Umar ibn al-Khaththab ra., salah seorang sahabat besar Rasulullah SAW yang telah dijamin masuk surga, saat beliau bertutur, “Pada Hari Kiamat nanti, apabila diumumkan bahwa semua manusia akan masuk surga, kecuali seorang saja yang masuk neraka, maka aku sangat khawatir bahwa yang seorang itu adalah aku karena begitu banyaknya dosa-dosaku.”

Bagaimana dengan kita? Meski jelas kita sangat jauh lebih banyak dosanya daripada Umar bin al-Khaththab ra dan belum pasti mendapatkan ‘tiket’ masuk surga, rasa khawatir dan takut kepada azab Allah SWT sepertinya sulit tumbuh dalam diri kita. Kebanyakan kita santai-santai saja, bahkan sepertinya sudah kebal dengan rasa takut kepada Allah SWT, dan tidak khawatir dengan azab-Nya yang pasti siapapun mustahil sanggup menanggungnya.

Jika sudah demikian, sepertinya kita perlu kembali merenungkan firman Allah SWT dalam sebuah hadis qudsi, “Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada seorang hamba. Jika ia tidak takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat. Jika ia takut kepada-ku di dunia maka Aku akan menghilangkan rasa takut pada dirinya di akhirat.”

Karena itu, benarlah Abu Sulaiman Darani saat berkata, “Kecelakaanlah bagi jiwa yang kosong dari rasa takut kepada Allah SWT!”

Lantas mengapa kebanyakan generasi Muslim saat ini begitu hampa dari rasa takut kepada Allah SWT? Tidak lain, sebagaimana dinyatakan Allah SWT sendiri, “Sesungguhnya bukanlah mata-mata lahiriah mereka yang buta, tetapi yang buta ialah mata-mata hati mereka yang ada di dalam dada.” (TQS al-Hajj [22]: 46).

Ya, kebanyakan mata hati kita memang sudah dibutakan oleh gemerlap dunia yang sesungguhnya bersifat sementara dan cenderung menipu. Akibatnya, kita tak sanggup lagi melihat pahala dan dosa, serta tak berdaya lagi menatap nikmat surga dan azab neraka yang sesungguhnya kekal dan abadi serta benar-benar ‘nyata’.

Alhasil, marilah kita kembali menajamkan mata hati!

[] arief b. Iskandar/

Sumber : Media Umat.com