“Sahabat, Jinakkan Amarahmu!”


“Sahabat, Jinakkan Amarahmu!”

Adalah suatu yang tidak mungkin bahkan tidak sehat untuk membuang semua perasaan marah. Yang jelas saya belum pernah menemukan cara untuk melakukannya. Akan tetapi ada perasaan yang dapat menghiburmu ketika kamu belajar menjinakkan amarahmu. Menjinakkan marah memang bukan suatu hal yang mudah, apalagi untuk kita para remaja yang emosinya kurang stabil.

Biasanya para remaja akan sangat senang berada di pihak pemenang, kita pasti akan berusaha untuk mencari kelemahan orang-orang yang mencari masalah pada kita dan selama kita mampu maka kita akan meluapkan rasa benci kita kepadanya. Akan tetapi justru di sinilah Allah menilai, apakah layak kita disebut ksatria atau tidak.

Seorang ksatria adalah orang yang mampu menahan marahnya, akan tetapi jika tindakan mereka berlebihan, ia hanya membalasnya setimpal dengan perlakuan orang tersebut. Orang yang seperti ini akan mendapat jaminan dari Allah berupa kecintaan yang mendalam.

Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu :

(1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya.” (HR. Hakim).

Ketika kita menghadapi sesuatu hal yang memancing emosi, manusia dapat dibedakan menjadi tiga tipe.

Pertama, orang yang tidak merasa marah padahal penyebabnya ada.

Kedua, orang yang merasa marah tetapi mampu menahan amarahnya dan mau memaafkan.  

ketiga, mereka yang merasa marah, mampu menahan marah, tapi tidak bisa memaafkannya.

Kita semua tahu karakter yang paling baik dari ketiga tipe tersebut adalah yang pertama. Orang-orang yang seperti inilah yang telah memiliki hilm, sifat sabar yang sangat besar. Sifat yang telah dimiliki Nabi yang telah dibuktikan dalam berbagai peristiwa.

Rasulullah SAW bersabda, “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, “tentu.”

Rasul bersabda, “Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.”   (HR. Thabrani).

…Kita boleh marah tapi jangan terbawa oleh perasaan marah. Berusahalah untuk bersabar dan saling memaafkan. Yakinlah bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar…

Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu jauh lebih baik.

Suatu hari ‘Aisyah  RA yang tengah duduk santai bersama suaminya, Rasulullah SAW, dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta izin masuk ke rumahnya dengan ucapan “assamu ’alaikum” (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapan “assamu ’alaikum” kepada Rasulullah.

Tak lama kemudian datang lagi Yahudi yang lain dengan perbuatan yang sama. Ia masuk dan mengucapkan “assamu ’alaikum”. Jelas sekali bahwa mereka datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah SAW. Menyaksikan pola tingkah mereka itu, Aisyah gemas dan berteriak: “Kalianlah yang celaka!”

Rasulullah SAW tidak menyukai reaksi keras istrinya. Lalu beliau menegur, “Hai ‘Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat”.

“Berlemah lembutlah atas semua yang telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. “Kenapa engkau harus marah dan berang?”

“Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?”

“Ya, aku telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya “wa’alaikum” (juga atas kalian), dan itu sudah cukup.”

… Rasulullah SAW menunjukkan kepribadian yang matang dan dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan, sehingga tidak mudah terpancing amarahnya…

Rasulullah SAW memberikan pelajaran berharga pada istrinya dan begitu pula pada kita umatnya. Beliau telah menunjukkan suatu kepribadian yang matang dan dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan, sehingga tidak mudah terpancing amarahnya.

Perkataan ‘Aisyah sebenarnya tidak salah dan masih dalam batas kewajaran. Ia tidak berlebihan hanya membalas secara setimpal apa yang mereka ucapkan. Akan tetapi Rasulullah belum berkenan terhadap ucapan istrinya.

Rasulullah mengajarkan mengendalikan diri. Jika kita berniat membalasnya, maka balasan itu hendaknya setimpal, tidak boleh berlebihan. Pilihlah kata-kata yang tegas, lugas, tapi tetap sopan, walaupun dengan orang yang jelas-jelas memusuhi kita.

Rasulullah SAW sangat bisa membalas ucapan keji orang Yahudi. Apalagi saat itu Rasulullah bukan saja sebagai pemimpin, tapi sekaligus merupakan kepala negara yang berkuasa. Apa susahnya membalas orang yang menghinanya, sedang menjebloskan mereka ke tahanan saja itu merupakan haknya. Tapi Rasulullah sebagai manusia agung memilih untuk memberi balasan yang secukupnya.

Keperkasaan seseorang tidak bisa diukur dari kekuatan fisiknya. Orang yang jantan, bukan mereka yang ahli bertinju, bukan mereka yang di setiap pertandingan tak terkalahkan. Menurut determinasi Islam orang yang kuat adalah mereka yang di kala marah bisa menahan dirinya.

Rasulullah bersabda, “Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat, kita boleh marah tapi jangan sampai kita yang terbawa oleh perasaan marah. Berusahalah untuk bersabar dan saling memaafkan. Tetap yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. [laras/voa-islam.com]

Iklan

Tangkap dan Adili Paus Benediktus!


Tangkap dan Adili Paus Benediktus!

LONDON (voa-islam.com) — Terkait maraknya skandal seksual di Gereja Katolik, seorang ilmuwan, penulis dan aktivis anti-agama asal Inggris, Richard Dawkins akan berupaya melakukan penangkapan terhadap Paus Benekdiktus XVI, ketika Paus berkunjung ke Inggris tanggal 16-19 September 2010 mendatang.

Penangkapan dimaksudkan agar Paus bisa menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengenai skandal pelecehan anak di gereja Katolik. Ide gila ini dikemukakan hari Ahad (11/4) waktu setempat.

Untuk itu, Dawkins meminta pengacara hak asasi manusia mengkaji apakah tuntutan bisa diajukan terhadap Paus.

Sesuai jadwal, kunjungan paus selama empat hari sejak 16 September 2010 itu akan menjadi lawatan pertama Paus sejak kunjungan pastoral Paus Yohanes Paulus II tahun 1982 dan merupakan kunjungan resmi pertama Paus ke Inggris.
      
Dawkins dan wartawan Inggris, Christopher Hitchens, menugasi pengacara Geoffrey Robertson dan Mark Stephens untuk menjajaki cara-cara melakukan tindakan hukum terhadap Paus.

… ada tiga pendekatan yang memungkinkan tindakan hukuman terhadap Paus: pengaduan ke Pengadilan Kejahatan Internasional di Belanda, penuntutan pribadi atau umum “atas kejahatan kemanusiaan”, atau kasus sipil…

Dalam pernyataan e-mail kepada media, Stephens mengatakan, ada tiga pendekatan yang memungkinkan tindakan hukuman terhadap Paus: pengaduan ke Pengadilan Kejahatan Internasional di Belanda, penuntutan pribadi atau umum “atas kejahatan kemanusiaan”, atau kasus sipil.
      
Mereka akan berargumentasi bahwa Paus tidak memiliki kekebalan diplomatik dari penuntutan selaku kepala negara karena Vatikan memiliki “status pengamat permanen” di PBB, tidak memiliki keanggotaan penuh atau hak suara.
      
Dawkins, penulis “The God Delusion” dan “The Selfish Gene”, mengatakan kepada surat kabar Sunday Times, ia mencurigai kasus pelecehan anak yang dilakukan oleh anggota-anggota gereja telah ditutup-tutupi.
      
Hitchens, yang menerbitkan sebuah buku tahun 2007 berjudul “God Is Not Great: The Case Against Religion”, mengatakan, “Orang ini (Paus) tidak berada di atas atau di luar hukum. Tindakan kelembagaan menutup-nutupi pelecehan anak merupakan kejahatan menurut hukum.”
      
Pengecam menuduh Benediktus lalai menangani kasus-kasus pelecehan dalam peran sebelumnya selaku kardinal di negara asalnya, Jerman, dan di Roma.

Akhir-akhir ini Gereja Katolik di seluruh dunia dihantui wabah pelecehan seksual terhadap anak-anak (pedofilia) yang dilakukan oleh para pastor, uskup dan biarawan di Irlandia, Jerman, Austria, Belanda, Denmark, Swiss, Amerika Serikat, dll.

Meski Vatikan selalu menolak klaim bahwa Paus menutup-nutupi pelecehan yang dilakukan para pastor, akhirnya, Paus Benediktus XVI menulis menerbitkan Surat Pastoral, Jumat (19/3/2010) yang menyesalkan dan mengecam para pastor dan uskup pedofil di Irlandia. Dalam surat sebanyak 18 lembar tersebut, Paus menganggap kasus tersebut sebagai kejahatan yang serius.  [taz/rpb, kmp, dbs]

Kajian Terbuka Menyingkap Fitnah Teroris


Kajian Terbuka Menyingkap Fitnah Teroris

Di tengah dera isu, fitnah yang bertubi-tubi menimpa umat Islam menyebabkan kita berpikir, adakah rencana global di balik ini semua? Siapa mereka? Apa yang sedang mereka rencanakan? Apa target akhir mereka? Bagaimana mereka melakukan makar mereka?

Ikuti, Forum Kajian Irena Center dengan tema: “Menyingkap Fitnah Teroris”

SABTU, 10 APRIL 2010:

Topik: Dengan Rasionalitas Menemukan Islam
Membahas tentang pandangan Barat terhadap Islam dan nilai-nilai luhur Islam yang membuatnya memilih Islam sebagai jalan hidup.

Narasumber: Ja’far Karim (Muallaf asal Amerika)

SABTU, 24 APRIL 2010

Topik: Jejak Zionis Di Indonesia
Membahas tentang para pelaku dibalik semua bencana dunia, kedudukan mereka dalam jaringan Freemason dan jejak-jejak freemason yang ternyata sudah lama ada di Indonesia.

Narasumber: Rizki Ridyasmara (Mantan Wartawan Sabili, Penulis portal-berita Eramuslim.com, Redaktur Eramuslim Digest, penulis Buku: Singapura-Basis Israel Asia Tenggara, Pidato Jihad Paus Benedictus XVI Dan Gerakan Zionis-Kristen, Fakta & Data Yahudi di Indonesia, Knights Templar, Knights of Christ, Ketika Rupiah Jadi Peluru Zionis, (Novel) The Jacatra Secret.

SABTU, 8 MEI 2010:

Topik: Penghancuran Umat Islam Lewat Makanan & Obat-obatan

Narasumber: Jerry D. Gray (Hajji Abdurachman)
Mualaf Amerika, Mantan US Airforce, Wartawan CNBC Asia, MetroTV. Masuk Islam pada tahun 1984.

Penulis Buku: Deadly Mist (Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia), Demokrasi Barnar Ala Amerika, 911 The Real Truth, Bayang-bayang Gurita, Dosa-dosa Media Amerika.

AHAD, 16 MEI 2010:

Topik: Selamat Dari Bencana Dunia
Membahas tentang upaya-upaya penghancuran umat Islam yang dilakukan jaringan Freemason dalam bentuk makanan, obat-obatan serta produk-produk barat lain.

Narasumber: KH. Sulaiman Zachawerus (Ketua MUI Bekasi)

WAKTU & TEMPAT:

Kajian ini diadakan rutin tiap Sabtu-Ahad (Pekan II & IV)
Pukul 08:30 s.d. zuhur

Tempat: Mushola Asmaul Husna, Perum.Taman Villa Baru Bekasi (Belakang Mall Metropolitan

Info: Telp: 021-88855562, HP: 083890.789.123

Gratis & Terbuka Untuk Umum

Perayaan Paskah: Umat Katolik Sedunia Doakan Penyelesaian Skandal Seks


Perayaan Paskah: Umat Katolik Sedunia Doakan Penyelesaian Skandal Seks

Church Scandal

Perayaan hari raya Paskah Gereja Katolik tahun ini berbeda dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya. Nuansa Paskah ternoda oleh skandal seks yang dilakukan oleh para pastur terhadap anak-anak (pedofilia) di berbagai negara Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

Vatikan masih berjuang mencari penyelesaian skandal seks gereja ini.  Jutaan umat Katolik dan Kristen di seluruh dunia yang sedang berdoa pada Jumat Agung dan Hari Paskah tentunya tak berharap masalah seperti ini terjadi. Tak peduli sekeras apapun usaha gereja untuk mengatasi masalah ini, masyarakat melalui media, terus ingin mengungkap rahasia terkelam di era gereja modern ini.

Monsignor John Enzler, mengungkapkan skandal semacam ini merupakan hal terakhir yang ingin orang dengar ketika merayakan hari suci terbesar bagi Katolik itu. Apalagi, skandal ini menghebohkan di sejumlah negara Eropa. “Mereka berdandan dan bergembira menyambut Paskah. Mendengar pesan semacam ini tentunya sangat mengganggu,” katanya, Jumat (2/4/2010).

Namun pada saat bersamaan, berdiam diri juga sama buruknya. Mereka dilanda kekhawatiran, ingin jawaban, kejujuran dan transparansi dari gereja. Enzler khawatir, berdiam diri akan membuat pertanyaan itu mengambang di udara dan membuka peluang makin banyaknya kritik serta pemberitaan negatif oleh media.

Selama beberapa pekan belakangan, gereja Katolik banyak bungkam ketika kasus yang melibatkan pelecehan seksual ribuan bocah di gereja Irlandia, Jerman dan beberapa lainnya di Eropa makin banyak. Timbul pertanyaan mengenai cara Paus Benediktus XVI mengatasi masalah ini. Terutama ketika ia masih menjabat sebagai kardinal terhormat.

Klaim skandal seks pun makin banyak, di tengah kecaman media dan investigasi. Pekan ini saja, pejabat tinggi, termasuk penerus Paus sebagai kepala Konggregasi Doctrine of the Faith serta beberapa pejabat gereja, terlibat dalam kasus pelecehan pastur dari Milwaukee, AS, yang melecehkan 200 anak tuna rungu. Pihak gereja menuding media berusaha menodai kesucian Holy See.

Selasa (30/3) lalu, Konferensi Uskup Katolik AS mengeluarkan surat yang menyatakan dukungan untuk Paus. Pernyataan tertulis Uskup Agung New York Tim Dolan itu menyatakan kecaman dan tudingan kepada Paus itu tak jauh beda dengan yang dialami Yesus Kristus. Ia juga mendukung para korban dan reformasi gereja agar kejadian serupa tak berulang, terutama di AS.

Namun tak semua penganut Katolik membela gereja. Pastur Thomas Reese dari Georgetown University mengatakan, metafora penderitaan Yesus lebih cocok untuk menggambarkan nasib para korban.

Sepekan terakhir, ia meneliti skandal-skandal ini dan berencana akan menyampaikannya sebagai pesan Jumat Agung darinya. “Siapa yang lebih merasa dikhianati, menderita, dan tersiksa seperti yang pernah dialami Yesus, jika bukan para korban?” tanyanya.

Untuk lebih menegaskan hal ini, advokasi para korban berencana mengadakan acara Jumat Agung di depan Katedral St. Matthew di Washington, hari ini waktu setempat. Ketua penyelenggara event tersebut, Jessica Lillie mengatakan, aksi ini bukan sebuah unjuk rasa. Melainkan bertujuan damai dan pada saat bersamaan, merayakan hari suci.

“Jumat Agung adalah hari yang menggambarkan penderitaan dan kami ingin gereja berhenti menyembunyikan penderitaan para korban,” ujarnya.

Mencuatnya masalah skandal seks di gereja ini makin heboh diberitakan usai dugaan keterlibatan Paus ketika masih menjadi Uskup Agung dengan nama aslinya, Joseph Ratzinger.

… Padahal pastur itu baru mengikuti terapi selama beberapa hari. Ada dugaan, pastur Amerika itu mengulangi kembali perbuatannya ketika di Jerman…

Kardinal Ratzinger dikatakan mengetahui seluk beluk kasus pastur dari AS yang melakukan pelecehan seksual. Setelah menganjurkan terapi, Kardinal Ratzinger bahkan menyetujui pemindahan si pastur ke gerejanya di Jerman. Padahal pastur itu baru mengikuti terapi selama beberapa hari. Ada dugaan, pastur Amerika itu mengulangi kembali perbuatannya ketika di Jerman. [taz/inlh]  NEW YORK  (voa-islam.com)

AS Mencari Musuh Baru


AS Mencari Musuh Baru

 

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) tanpa berunding dengan Kongres telah menciptakan musuh bayangan dan menetapkan program perang jangka panjang dengan memprediksikan instabilitas keamanan selama 50-80 tahun dari Eropa hingga Asia Selatan.

Berdasarkan laporan alternet, ada dana besar yang harus dikeluarkan untuk doktrin perang 80 tahun. Menurut salah satu arsitek perang AS, perang di Irak, Afghanistan dan Pakistan adalah bagian kecil dari program ini.

Namun yang pasti, 20 presiden mendatang AS pasti disibukkan dengan upaya untuk menjalankan program ini.

David Kilcullen yang saat ini menjabat komandan pusat militer AS di Timur Tengah dan Asia Selatan terkait hal ini mengatakan, pengertian soal program ini adalah hal yang dibuat-buat oleh kelompok kecil dengan memanfaatkan pengaruhnya sehingga mereka berhasil menyisipkan istilah ini dalam laporan Pentagon tahun 2006.

Menurut situs ini, untuk pertama kalinya pada tahun 2004 istilah perang berkepanjangan dicetuskan John Philip Abizaid, komandan militar AS di Timur Tengah saat itu.

Para pengamat menyatakan, strategi perang berkepanjangan harus dikaji secara serius di Kongres sehingga menjadi jelas siapa sebenarnya musuh bayangan yang dimaksud. (mj/ir)