Sholat Subuh, Ujian Terberat


Saking utamanya bangun subuh untuk melaksanakan salat subuh berjamaah, maka  Rasulullah SAW secara khusus berdoa “Wahai Tuhanku, berkahilah ummatku yang suka bangun subuh!”. Terkait ini Rasul SAW bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan salat Isya secara berjamah, maka ia seperti salat malam separoh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan salat subuh secara berjemaah, maka ia seperti salat malam satu malam penuh “ (HR.Muslim ).

Keutamaan lainnya antara lain tegas Rasul SAW,

“Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di kegelapan malam menuju masjid, bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat “ (HR.Abu Daud dan Turmuzi).

Salat subuh berjemaah merupakan sarana penjagaan Allah terhadap seorang Muslim, seperti diutarakan Rasulullah SAW, “Barangsiapa melaksanakan salat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menarik kembali jaminan-Nya kepada kalian dengan sebab apa pun. Karena siapa yang Allah cabut jaminan-Nya  darinya dengan sebab apa pun, pasti akan tercabut. Kemudian Allah akan telungkupkan wajahnya dalam neraka jahanam“ (HR.Muslim).

Ternyata rahasia kekuatan salat subuh telah diketahui pula oleh musuh
buyutan Islam seperti yang dikatakan oleh seorang penguasa Yahudi,
“Kami baru takut terhadap umat Islam jika mereka telah melaksanakan
salat subuh seperti melaksanakan salat Jumat .

Karena itu tidak aneh, hingga saat ini belum pernah ada gangguan, ataupun terdengar adanya  ancaman dari pihak musuh Islam terhadap dua kota suci, yaitu Mekah dan Madinah. Karena di kedua kota suci tersebut jumlah jemaah salat subuh dan salat Jumatnya, relatif sama.

“Di balik pelaksanaan dua rekaat di ambang fajar, tersimpan rahasia
yang menakjubkan
. Banyak permasalan yang bila dirunut, bersumber dari
pelaksanaan salat subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para sahabat
Nabi berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu.
Pernah suatu ketika mereka terlambat salat subuh dalam penaklukkan
benteng Tastar. “Tragedi” ini membuat sahabat semisal Anas bin Malik
selalu menangis bila mengenangnya“ (Buku Misteri Shalat Subuh oleh
DR.Raghib As-Sirjani).

Masih banyak keutamaan salat subuh lainnya yang tidak mungkin diungkap
dalam space yang amat terbatas ini. Bayangkan, jangankan, salat fardhu
subuhnya, sedangkan salat sunnah fajar, dua rakaat sebelum fardhu
subuh, keutamaannya sungguh sangat menakjubkan. Kata Rasulullah SAW,
“Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya “. ”Dan dua
rakaat fajar jangan kamu tinggalkan walaupun engkau mengadakan
perjalanan jauh “
( HR.Ahmad dan Abu Daud ).

“Salat subuh menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Jika ada seorang
mukmin – walaupun ia jago puasa, tilawah Al Quran, berzikir, atau
bahkan ia seorang dai sekalipun –  namun ia masih merasa  berat untuk
bangun menghadiri salat subuh berjamaah di masjid, maka ia harus banyak
bermuhasabah, jangan-jangan ia termasuk dalam sabda Rasul SAW ;

“Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat subuh  “ (HR.Ahmad).

(Buku Keajaiban Sholat Subuh oleh Imad’Ali ‘Abdus Sami’Husain). Dalam hadis lain Rasul menegaskan, “Batas antara kita dengan orang-orang munafik adalah menghadiri salat Isya dan Subuh, sebab orang-orang munafik tidak sanggup menghadiri kedua salat tersebut “ (HR.Imam Malik)..

Pada suatu hari, Nabi SAW melihat puterinya, Fatimah masih juga
tertidur padahal waktu subuh telah tiba, beliau lalu menggoyang –
goyang kaki puterinya dengan penuh kasih sayang seraya berkata
“Bangunlah anakku dan saksikanlah, sesungguhnya Tuhan menetapkan
pembagian rezeki manusia adalah pada saat-saat setelah fajar
menyingsing dan sebelum matahari terbit“
.

Supaya ummat Islam gemar bangun subuh, Nabi SAW  bersabda, “Bila kamu bangun subuh, maka berlipat ganda upah kamu terima “.

Diriwayatkan oleh Imam Malik RA bahwa pada suatu subuh, Umar bin
Khaththab RA tidak mendapati Sulaiman bin Hatsmah. Sehari saja. Paginya
Umar pergi ke pasar, sementara rumah Sulaiman terletak antara pasar dan
Masjid Nabawi. Umar bertemu dengan As-Syifa, ibunda Sulaiman RA. Ia pun
bertanya kepadanya, “Saya tidak melihat Sulaiman tadi pada saat salat
subuh“. Lalu ia menjawab, “Dia salat malam lalu ia tertidur pada pagi
harinya“. Lalu Umar berkata, “Sungguh, ikut serta dalam salat subuh
berjemaah itu lebih baik bagi saya dari pada salat malam“.

Abu Sulaiman Al-Darani, salah seorang ulama Salaf memberi nasehat
“Sambutlah waktu fajar dengan sebaik-baiknya! Sebab, pada saat itu
ribuan kebaikan turun ke muka bumi“. Syaikh Al-Nabtaiti hampir tidak
pernah memejamkan mata pada waktu malam. Dia takut kesiangan atau
terlewat melakukan amalan rutin pada waktu fajar. Dia menyebutkan bahwa
saat-saat menjelang fajar adalah saat Allah memanggil hamba-Nya. Ada
seseorang bertanya kepada Al-Nabtaiti, “Wahai Syaikh, apa yang membuat
dirimu tidak pernah nyenyak ketika tidur? “  Beliau menjawab:

”Sesungguhnya setiap malam Yang Maha Pemurah selalu memanggil hamba-hamba-Nya. Aku takut ketika Dia memanggil, aku menyahut –Nya
dengan dengkuran. Dan, aku malu terlihat oleh Tuhanku terbaring seperti
bangkai, padahal aku masih diberi nyawa.“ (Buku 99 Akhlak Sufi oleh
‘Abd Al-Wahhab Al-Sya’rani). Wallahualam. **

Pulang


pulang

pulang

Dua orang pegawai tampak masih sibuk pada pekerjaannya, meski malam sudah mengisyaratkan mereka untuk istirahat. Di gedung megah yang sehari-hari menjadi kantor tempat mereka berkerja itu sudah tidak ada lagi pegawai. Kecuali, petugas keamanan malam.

Salah seorang yang bertubuh kurus pun berujar, ”Ah, hari yang melelahkan. Saatnya pulang ke rumah.”

Seorang yang agak gemuk hanya menoleh sebentar, kemudian kembali dengan kesibukannya. Ia hanya membalas ucapan temannya yang mulai berkemas dengan senyum. “Aku lembur lagi!” ucapnya singkat.

“Apa kamu tidak kangen dengan isteri dan anak-anakmu?” tanya si kurus mulai beranjak menuju pintu.

”Entahlah, aku merasa lebih nyaman berada di sini,” jawab si gemuk sambil terus sibuk dengan pekerjaannya. ”Ruangan ini sudah seperti rumahku,” tambahnya begitu meyakinkan.

Si kurus menatap temannya begitu lekat. Sebelum langkah kakinya meninggalkan sang teman, ia tergelitik untuk mengucapkan sesuatu, ”Menurutku, kamu bukan tidak ingin pulang. Tapi, kamu belum paham apa arti pulang.”

**
Angan-angan sederhana yang kerap muncul di kepala siapa pun ketika ia begitu lama berada di luar rumah adalah pulang. Seorang pejabatkah, pegawaikah, pengusahakah, pelajar dan mahasiswakah; titik akhir dari akumulasi kelelahannya berinteraksi dengan dinamika hidup selalu tertuju pada pulang.

Kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan-kerinduan dengan sesuatu yang sudah menjadi ikatan kuat dalam diri seseorang. Sesuatu yang tidak mungkin untuk dipisahkan, karena dari situlah ia berasal dan di situ pula ia menemukan jati dirinya.

Dalam skala hidup yang lebih luas, pulang adalah kembalinya manusia pada asalnya yang tidak mungkin dielakkan. Apa dan bagaimana pun keadaannya, suka atau tidak pun rasa ingin pulangnya, jauh atau dekat pun perginya, dan ada atau tidaknya kerinduan terhadap arah pulang yang satu ini; setiap kita pasti akan ’pulang’.

Walaupun, tidak sedikit orang yang merasa lebih nyaman berada di dunia ini daripada berhasrat menuju ’pulang’. Persis seperti yang diungkapkan si kurus kepada temannya, ”Kita bukan tidak ingin ’pulang’. Tapi, kita mungkin belum memahami arti ’pulang’.”
@eramuslim.com