For Your Info: Keyakinan Dan Kesabaran


For Your Info: Keyakinan Dan Kesabaran.

Iklan

Dagelan Penggerebegan Teroris Solo, Ada Apa?


Dagelan Penggerebegan Teroris Solo, Ada Apa?

BEBERAPA hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas Badan Intelijen Negara (BIN).

Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan. Baca pos ini lebih lanjut

Kajian Terbuka Menyingkap Fitnah Teroris


Kajian Terbuka Menyingkap Fitnah Teroris

Di tengah dera isu, fitnah yang bertubi-tubi menimpa umat Islam menyebabkan kita berpikir, adakah rencana global di balik ini semua? Siapa mereka? Apa yang sedang mereka rencanakan? Apa target akhir mereka? Bagaimana mereka melakukan makar mereka?

Ikuti, Forum Kajian Irena Center dengan tema: “Menyingkap Fitnah Teroris”

SABTU, 10 APRIL 2010:

Topik: Dengan Rasionalitas Menemukan Islam
Membahas tentang pandangan Barat terhadap Islam dan nilai-nilai luhur Islam yang membuatnya memilih Islam sebagai jalan hidup.

Narasumber: Ja’far Karim (Muallaf asal Amerika)

SABTU, 24 APRIL 2010

Topik: Jejak Zionis Di Indonesia
Membahas tentang para pelaku dibalik semua bencana dunia, kedudukan mereka dalam jaringan Freemason dan jejak-jejak freemason yang ternyata sudah lama ada di Indonesia.

Narasumber: Rizki Ridyasmara (Mantan Wartawan Sabili, Penulis portal-berita Eramuslim.com, Redaktur Eramuslim Digest, penulis Buku: Singapura-Basis Israel Asia Tenggara, Pidato Jihad Paus Benedictus XVI Dan Gerakan Zionis-Kristen, Fakta & Data Yahudi di Indonesia, Knights Templar, Knights of Christ, Ketika Rupiah Jadi Peluru Zionis, (Novel) The Jacatra Secret.

SABTU, 8 MEI 2010:

Topik: Penghancuran Umat Islam Lewat Makanan & Obat-obatan

Narasumber: Jerry D. Gray (Hajji Abdurachman)
Mualaf Amerika, Mantan US Airforce, Wartawan CNBC Asia, MetroTV. Masuk Islam pada tahun 1984.

Penulis Buku: Deadly Mist (Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia), Demokrasi Barnar Ala Amerika, 911 The Real Truth, Bayang-bayang Gurita, Dosa-dosa Media Amerika.

AHAD, 16 MEI 2010:

Topik: Selamat Dari Bencana Dunia
Membahas tentang upaya-upaya penghancuran umat Islam yang dilakukan jaringan Freemason dalam bentuk makanan, obat-obatan serta produk-produk barat lain.

Narasumber: KH. Sulaiman Zachawerus (Ketua MUI Bekasi)

WAKTU & TEMPAT:

Kajian ini diadakan rutin tiap Sabtu-Ahad (Pekan II & IV)
Pukul 08:30 s.d. zuhur

Tempat: Mushola Asmaul Husna, Perum.Taman Villa Baru Bekasi (Belakang Mall Metropolitan

Info: Telp: 021-88855562, HP: 083890.789.123

Gratis & Terbuka Untuk Umum

Bentuk Kenikmatan Dunia



Bentuk Kenikmatan Dunia

Betapa banyak manusia menjadi lupa. Betapa banyak manusia menjadi ingkar. Betapa banyak manusia tidak dapat bersyukur. Betapa banyak manusia menjadi durhaka dan berkhianat. Mereka melupakan tujuan hidupnya dan hanya mengejar kenikmatan dunia. Dunia yang akan berakhir. Tempat manusia hidup. Tempat manusia memuja kenikmatan. Semuanya menjadi sia-sia belaka.

Dalam kehidupan ini ada bertingkat-tingkat tentang kenikmatan dunia. Manusia berlomba mengejar, hingga kepayahan, dan umurnya habis, dan hidupnya tersungkur, hanya diarahkan mengejar kenikmatan dunia. Tak ada kenikmatan yang sejati. Kenikmatan yang diinginkan manusia dalam kehidupan itu hanyalah kenikmatan yang semu. Ilusi. Khayalan dari manusia yang sudah orientasi hidupnya hanya untuk kenikmatan dan kemegahan.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan yang teragung dan terbesar, yaitu kenikmatan yang mengantarkan pada kenikmatan akhirat. Kenikmatan akhirat itulah yang akan membawa hamba kepada kemuliaan yang kekal. Karena itu, hakekatnya seorang mukmin, tidak mengejar kenikmatan dunia, yang tidak memiliki arti apa-apa, dibandingkan dengan kenikmatan berupa kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla.

Tidak ada artinya kenikmatan dan kelezatan dunia seisinya, yang banyak membuat manusia menjadi lupa dan mabuk, sehingga terlena dengan kehidupan dunia. Kehidupan manusia yang sudah mabuk dunia itu, menjadi sujud, rukuk, dan ibadahnya hanya untuk memenuhi rasa kenikmatan dunia.

Hanyalah orang-orang mukmin, yang layak mendapatkan kenikmatan, yang sejati, karena pahala Allah Rabbul alamin, selalu mengalir, ketika mereka makan, minum, berpakaian, tidur, terjaga, dan dalam pernikahannya, dan semua amal mereka semata hanya diarahkan untuk mendapatkan ridho-Nya. Tidak mencari ridho selain-Nya. Apalagi, hanya ingin mendapatkan ridho kepada manusia lainnya, yang dapat memberinya kenikmatan dunia. Itu bukan sifat mukmin yang hakiki.

Orang-orang mukmin kerinduan hanya pada kenikmatan atas keimanannya, ibadahnya, kerinduannya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan dunia itu, selalu akan menghalangi seseorang memperoleh kenikmatan akhirat dan bahkan mengantarkan kepada siksa. Manusia yang orientasinya kepada kenikmatan dunia, akhirnya menjadikan benda-benda, jabatan, kekuasaan, dan makhluk-makhluk, serta berbagai bentuk berhala-hala, yang menyerupai tuhan, menjadi arah dan tujuan hidup mereka. Seakan semua yang ada itu, mampu memberikan kenikmatan kepada manusia yang bersifat kekal. Karena itu, ketika diakhirat mereka saling mencerca dan menyalahkan.

“ .. Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami, ‘Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). ‘Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (al-An’aam : 128-129).

Kelezatan dan kenikmatan orang yang berbuat zalim dan keji merupakan istidraj (tangga tahapan pengahancuran),yang diberikan Allah agar mereka merasakan siksa yang lebih berat dan mereka akan terlarang untuk merasakan kenikmatan yang paling agung. Seperti orang yang menyodorkan makan yang enak dan dibubuhi racur agar orang yang memakannya mati secara peralahan-lahan.

Allah berfirman:

“ .. Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) ari arah yang tidak mereka ketahui. Dan, Aku memberi tangguh, kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh”. (al-Qalam : 44-45).

Sebagian salaf menafsirkan inna kaidi matin (rencana-Ku amat tangguh), maksudnya adalah setiap kali mereka melakukan dosa, maka Kami akan memberikan nikmat mereka. Itulah bagi orang-orang yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dunia.

Sebaliknya, seorang yang sangat takut dengan kehidupan dunia, dan hidupnya zuhud dan wara’, ketika meninggal rombongan Malaikat suci, hamba-hamba Allah yang sangat dekat kepada-Nya, datang menjemputnya menuju tempat, yang abadi kekal, selamanya, surga Allah taman Firdausi. Itulah akhir kehidupan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kebahagiaan di kampung akhirat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang taqwa”. (al-Qashas : 83). Wallahu’alam.

Sumber : Mashadi / eramuslim.com

Janji Kemenangan Islam


Janji Kemenangan Islam

Oleh: Muhammad Rahmat Kurnia


Bagaimana syariah bisa tegak bila masyarakat perutnya lapar!” Begitu, kata sebagian orang.  Memang, harus diakui bahwa langkah perjuangan bukanlah hal mudah.  Penuh kesulitan.  Bukan sekadar masalah ekonomi, setumpuk masalah lain pun terus menimpa.  Sebut saja secara internal, kondisi ekonomi umat Islam masih terpuruk.  Kemiskinan masih di atas 35 juta jiwa.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Hermawan, angka kemiskinan ini hingga 2010 diprediksi tidak akan jauh berbeda dengan angka kemiskinan tahun ini.  Hanya saja, kondisi ini sejatinya justru menjadi dorongan besar untuk berjuang lebih sungguh-sungguh.  Sebab, tanpa perubahan sistem dan orang niscaya kondisi tak akan pernah beranjak.  Tengoklah para pendukung dakwah para Nabi banyak dari kalangan miskin, misalnya Bilal bin Rabah, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.

Selain itu, ada sikap kaum Muslim yang menerima keadaan, puas dengan kondisi yang ada.  Bahkan, mengatakan sistem yang ada sudah final.  Perjuangan pun jalan sendiri-sendiri.  Upaya penyatuan langkah sering kali kandas di tengah pragmatisme.  Akhirnya, tidak jarang pihak yang disebut ulama dan tokoh Islam mendiamkan kemungkaran.  Sebagai contoh kecil, tak banyak kalangan Islam yang bersuara terkait skandal century gate.

Pada sisi lain, penguasa kini semakin liberal dan pro Barat (west friendly).  Sampai-sampai merasa perlu membuat patung Obama.  Padahal, dialah yang menumpahkan darah kaum Muslim di Afghanistan dan Pakistan sekarang.  Suara kritis dari parlemen hilang karena partai-partai berkoalisi menjadi pendukung partai penguasa.

Kini, tengah ada upaya untuk merubah UU Antiterorisme sedemikian rupa sehingga “Penindakan harus dimulai  sejak tahap provokasi & eksploitasi radikalisme”.  Dengan kata lain, Internal Security Act (ISA) seperti di Malaysia sedang dijajaki untuk dihidupkan.  Hal ini dapat bersifat liar menjadi kriminalisasi pendakwah.  Dari eksternal pun tantangan luar negeri masih besar.Melihat kondisi demikian, haruskah pesimis?  Jawabannya tegas: tidak!  Sebaliknya, kaum Mukmin harus selalu optimis.  Mengapa?

Pertama, kesulitan merupakan sunnatullah dalam perjuangan.  Allah SWT menegaskan: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (TQS. al-Baqarah[2]:214).  Imam al-Qurthubi memaknai bahwa mereka ditimpa kebutuhan dan keserbakurangan/kefakiran yang sangat, celaan dan malapetaka, serta keguncangan berupa tidak takut dan gentarnya musuh-musuh terhadap mereka.

Hal ini menjadikan mereka menyangka lambatnya pertolongan Allah.  Namun, justru dalam kondisi demikian Allah SWT menyatakan bahwa pertolongan-Nya dekat, Dia akan meninggikan kaum Mukmin di atas musuh-musuh mereka, memenangkannya, meninggikan kalimat-Nya,  memberikan janji yang telah diberikan-Nya kepada mereka, dan memadamkan api peperangan para musuhnya (Jami al-Bayan fi at-Ta`wil al-Quran, Juz IV, hal. 288).

Ini menunjukkan bahwa rasa pesimis yang hampir hinggap di dada para sahabat ditepis oleh Allah SWT.  Akhirnya, mereka pun kembali menyadari bahwa kesulitan merupakan pangkal keberhasilan.  Kesulitan merupakan sunnatullah dalam perjuangan.  Optimisme mereka pun kembali.

Kedua, Allah SWT menjanjikan kemenangan.  Di antara janji-Nya adalah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

“Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (TQS. an-Nur[24]:55).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan: “Ini adalah janji dari Allah kepada Rasul-Nya SAW.  Dia akan menjadikan umatnya sebagai para khalifah di bumi ini, yakni para pemimpin dan para wali bagi manusia.

Melalui merekalah berbagai negeri akan baik, pada merekalah para hamba akan tunduk.  Dia pun akan mengubah rasa takut mereka menjadi rasa aman dan keadilan pada mereka.  Allah telah membuktikan hal ini” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VI, hal. 77).  Janji ini akan kembali terbukti bagi umat Muhammad masa sekarang.

Ketiga, kini ada kelompok umat Islam yang teguh pada kebenaran, menyerukan Islam dengan sejujurnya.  Tidak sedikit para aktivisnya ditangkap karena dakwah yang dilakukannya.  Kata Nabi SAW, mereka yang tetap bersikap demikian akan mendapatkan kemenangan.  Realitas ini persis sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Akan selalu ada kelompok dari umatku yang berdiri di atas kebenaran, dan mereka dalam kemenangan.

Orang-orang yang menentang dan melawan mereka tidak akan membahayakan mereka hingga Allah Tabaroka wa Ta’ala mendatangkan kemenangan pada saat mereka dalam kondisi seperti itu (di atas kebenaran dan menang) (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Baihaqi).    Hadits ini mengajarkan hal penting untuk dilakukan adalah konsisten berada dalam kebenaran dan istiqamah menyerukannya.  Kesulitan apapun tak akan pernah membahayakan.  Dan, kemenangan hanya tinggal waktu saja.

Keempat, upaya menegakkan Islam secara kaffah makin mendapatkan sambutan, terlebih dari kalangan muda.  Bukan hanya berumur muda, mereka banyak dari kalangan mustadh’afin, juga berasal dari kalangan menengah.  Padahal, mustadh’afin, kalangan pemuda, dan kelas menengah merupakan ujung tombak perjuangan.

Hal ini mengingatkan kita pada perjuangan Nabi SAW yang juga didukung oleh kalangan ini.  Beliau didukung oleh mustadh’afin seperti Bilal, Abu Dzar, dan banyak mantan budak. Beliau sendiri diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada usia masih belia, 40 tahun.

Pendukung awal beliau  tercatat banyak dari kaum muda seperti Ali bin Abi Thalib (8), Thalhah bin Abdullah (11), Arqam bin Abi Arqam (12), Said bin Zaid (20), Saad bin Abi Waqash (17), Utsman bin Affan dan Khabab bin Art (20-an), Mush’ab bin Umair yang kelak menjadi utusan Nabi di Madinah (24), Umar bin Khathab (26), Bilal bin Robah (30), Abu Bakar (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), dll.

Sejarah kemanusiaan pun mencatat perubahan senantiasa dipelopori oleh kalangan muda.  Realitas ini meniscayakan optimisme dalam perjuangan.

Kelima, kebobrokan, ketidakadilan, korupsi, dan kezhaliman yang terus terjadi semakin menyadarkan masyarakat bahwa sistem sekulerisme, kapitalisme, dan demokrasi yang kini diterapkan tetap melanggengkan semua itu.  Muncul tuntutan sistem alternatif. Dan, sistem alternatif itu hanya satu: Islam.

Tidaklah mengherankan pertengahan 2009 tidak kurang hadir 7000 orang dalam acara Muktamar Ulama Nasional (MUN) di Istora Senayan, Jakarta.  Mereka adalah ulama yang datang dari berbagai daerah Indonesia.  Seruannya sama, jalan keselamatan manusia adalah penerapan syariah dan penyatuan dalam Khilafah.  Sambutan dari para ulama ini menggambarkan adanya harapan dan optimisme baru.

Jelaslah, secara imani, kemenangan tinggal menunggu waktu.  Secara faktual, kini sedang menggelinding perjuangan yang memadukan para ulama dan kaum muda dari kelas menengah ditopang oleh kekuatan mustadh’afin.   Sementara, kalangan atas mulai melirik Islam.  Hal ini meniscayakan makin bertambahnya optimisme dalam perjuangan menegakkan Islam.[]

Sumber : MediaUmat.com