Untuk Perempuan Super Sibuk


Sukses Di Kantor, Sukses di Rumah

Perempuan super sibukSeorang ibu rumah tangga kadang kesulitan untuk membagi waktu untuk mengurusi semua urusan rumah dan keluarganya. Apalagi perempuan yang memilih berkarir, kesulitan mereka untuk menyeimbangkan peranannya sebagai pekerja di kantor dengan perannya sebagai ibu rumah tangga, jadi berlipat ganda. Tapi itulah tantangan bagi perempuan karir sekaligus ibu rumah tangga. Mereka harus bisa membagi waktunya antara bekerja di luar rumah dengan keluarganya di rumah.

Kesulitan membagi waktu ini menjadi kerap menjadi keluhan utama para perempuan karir. Tapi sebenarnya, jika mereka jeli, kesulitan menyeimbangkan peran itu terkadang datang dari mereka sendiri yang tanpa disadari kadang telah banyak membuang waktu-waktu berharga mereka. Untuk menghindari hal tersebut, Anisa Abeytia, seorang perempuan karir, penulis lepas dan spesialis di bidang kesehatan intregratif asal Uni Emirat Arab ini memberikan tips-tips bagi para perempuan karir maupun ibu rumah tangga agar lebih efektif menggunakan waktunya sehingga bisa menyeimbangkan semua kewajiban yang harus dipenuhinya.

Tips yang diberikan Abeytia berdasarkan pengalamannya sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, mengurus empat anak dan menerapkan program homeschooling buat anak-anaknya serta masih harus bolak-balik ke kampus untuk menyelesaikan studi masternya. Tak terbayangkan betapa sibuknya ia harus membagi waktu agar tidak ada yang terbengkalai. Nah, inilah kiat-kiat yang diberikannya untuk para ibu yang juga super sibuk;

Membuat perencanaan. Sebaiknya ketika akan melakukan sesuatu, kita membuat perencanaan yang matang. Meski kadang hasilnya masih meleset dari yang kita harapkan. Tapi dengan membuat perencanaan, setidaknya kita tahu apa yang kita inginkan, bagaimanan mencapainya dan apa yang penting buat kita.

Tidak melibatkan anak-anak dalam banyak kegiatan di luar rumah. Banyak orang yang menjejalkan anak-anaknya dengan segudang kegiatan yang akhirnya banyak menyita waktu sang ibu hanya untuk mengatarkan anak-anaknya dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Orang tua boleh-boleh saja memberikan banyak kesempatan pada anak-anaknya untuk mempelajari apa saja. Tapi tidak perlu berlebihan karena banyak kegiatan akan membuat ibu dan anak sama-sama lelah, anak juga jadi belajar tidak konsisten dan tidak benar-benar menguasai satu bidang karena terlalu banyak yang dilakukannya.

Jangan terlalu banyak perabot di rumah. Benda-benda yang ada di rumah kita harus selalu dalam keadaan rapih dan bersih dan itu artinya, semakin banyak perabotan di rumah, makin banyak pula waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan dan merapikannya. Akan lebih baik jika perabot rumah tangga tidak terlalu banyak dan dipilih yang simpel saja, sehingga tidak buang-buang waktu ketika mengurusnya.

Menata rumah dengan benar . Kita kadang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga ketika membutuhkan, butuh waktu lama untuk mencarinya. Disinilah pentingnya pengorganisasian, menempatkan benda-benda dalam rumah dengan benar dan seluruh anggota keluarga tahu kemana mereka harus mencari benda-benda yang dibutuhkannya termasuk masalah penggunaan telepon, internet dan televisi bisa menyebabkan banyak masalah jika penggunaannya tidak bijaksana.

Menetapkan tujuan yang realistis. Menentukan tujuan yang realistis memang bukan pekerjaan yang gampang. Tapi setiap tujuan harus sangat spesifik dan memberikan bimbingan pada kita tentang bagaimana, kapan dan berapa banyak atas kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan.

Menetapkan prioritas. Agar waktu tidak terbuang percuma, ada baiknya menentukan prioriotas apa yang penting buat kita dan mengapa sesuatu itu penting. Usahakan semua perencanaan per hari, per minggu atau perbulan dibuat dalam bentuk tertulis. Dengan mencatat semua rencana, tujuan, prioritas, waktu yang digunakan lebih efesien.

Pentingnya waktu untuk menyendiri. Setiap orang butuh saat-saat dimana ia bisa relax dan menyegarkan kembali pikirannya. Misalnya, membaca buku, mandi, berbagi makanan dengan teman-teman atau melakukan aktivitas yang sangat kita sukai. Jika tubuh dan pikiran tidak diberi kesempatan untuk relax, bisa menimbulkan resiko kelelahan dan sakit.

Keluarga super sibukAllah Swt menyukai tindakan kecil yang kita lakukan tapi konsisten. Daripada banyak hal yang dikerjakan tapi tidak konsisten mengerjakannya secara rutin. Konsistensi membuat sebuah kegiatan menjadi lebih mudah dan efektif serta bisa menyentuh semua aspek kehidupan. Kita tidak perlu membuang-buang waktu, uang dan tenaga hanya untuk meraih tujuan-tujua kita jika konsisten dengan tindakan kita.

Kesimpulannya, kunci keberhasilan seorang perempuan berkarir atau ibu rumah tangga adalah mampu menyeimbangkan antara pekerjaannya dengan waktu untuk keluarganya. Untuk itu yang terpenting adalah selalu membuat perencanaan, tahu prioritas apa yang akan dilakukan dan apa tujuan yang akan dicapai. Jika dibiasakan, ketiga unsur tadi akan menjadi sebuah sistem Anda dalam bekerja. Sehingga tidak perlu dipusingkan lagi dengan keluhan antara karir dan rumah tangga. (ln/iol)

Sumber : Era Muslim

Jualan “Ngumpet” Untung Berlipat


Jualan “Ngumpet” Untung Berlipat

Inilah rahasia sukses bisnis masa kini: bisnis online! Tak perlu lapak dan toko ‘gede’, tapi dapat untung banyak. Pak Mukhlishin, adalah salah satu pengusaha muslim yang mencoba ‘nyemplung’ di bisnis online tersebut. Dengan kepercayaan diri tinggi dan yakin sukses, Mukhlishin mampu meraup omset yang cukup fantastik meski tokonya hanya di gang sempit.

Bermula dari Raihan

tanah abang Siapa yang tak kenal Raihan? Mahasiswa dan aktivis dakwah serta komunitas muslim mungkin tak asing lagi dengan gerai Raihan yang cabang utamanya terletak di Jalan Pemuda, Rawamangun, tepat di depan Kampus Universitas Negeri Jakarta.

Raihan adalah sebuah toko yang menjual berbagai pernak-pernik busana muslim, dari kepala hingga ujung kaki, dari obat-obatan herbal hingga kosmetik Islami. Dengan segmentasi pasar yang setia, Raihan pun mendapat nama. Namun, tak banyak yang mengenal siapa di balik kesuksesan Raihan, dialah Mukhlishin, bapak empat anak yang kini merintis menjadi pengusaha fashion muslim di dunia online.

Sejak awal tahun 2000-an, tepatnya setelah menikah, Mukhlishin mulai terjun ke industri fashion, khususnya busana muslim. Sebelumnya, dia pernah merasakan menjadi karyawan di toko buku I’tishom selama dua tahun. Pengalaman bekerja di I’tishom membuatnya menemukan peluang bisnis, yaitu busana muslim. Mulailah ia berjualan busana muslim dengan cara klasik: konsinyasi dan menitipkan barang dagangannya di beberapa tempat, dari Jakarta, Depok, Bogor, hingga Cikarang.

Dua tahun berjalan, Mukhlishin dan istri mampu membeli ruko di Jalan Pemuda dan membuka Raihan. Waktu itu, strategi marketing yang sangat ampuh dilakukan oleh Mukhlishin yaitu dengan tagline: “Beli Jilbab Bisa Dapat Hape”. Karena telepon genggam saat itu masih menjadi barang langka, strategi ini pun langsung menaikkan omset Raihan hingga 40%. Kemudian, dua tahun berlalu, Mukhlishin sudah menyiapkan strategi baru yaitu dengan memberikan hadiah laptop, namun musibah menimpanya.

Toko Raihan habis dilalap api pada tahun 2004, padahal ia baru saja membuka cabang Raihan di dekat stasiun Bogor. Bukan hanya barang dagangannya ludes, Mukhlishin pun harus menanggung utang kepada supplier. Ia memang menolak barang-barangnya ‘diputihkan’ oleh supplier karena tidak mau membebani supplier. Dari kejadian itu, ia bangkit dan dapat membuka cabang Raihan di Depok.

Selain membuka toko Raihan, Mukhlishin pun mencoba peruntungan dengan membuka warnet dan juga ikut MLM. Dari MLM tersebut, Mukhlishin menjadi Distribution Centre dan merasakan jalan-jalan ke Singapura dan Thailand, namun selang beberapa tahun, MLM tersebut bubar. Di sisi lain, usaha warnetnya kandas karena dirasakan tidak maksimal dalam keuntungan. Ia lalu bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA), dan berkenalan dengan bisnis online.

Ambil Manfaat dari Kegagalan Kegagalan demi kegagalan pernah dilalui Mukhlishin dan keluarga. Setelah tokonya terbakar, usaha MLM dan warnet juga kandas, tapi ia terus berusaha untuk bangkit. Dari musibah yang menimpa tokonya, ia berpikir untuk menjadikan utang-utangnya kepada supplier sebagai motivasi untuk terus berusaha dan menghasilkan keuntungan yang banyak. Dari usaha MLM, ia bersyukur karena dapat menghadiri berbagai seminar motivasi dan wira usaha yang membuatnya bertahan hingga sekarang. Sementara dari usaha warnet, ia dapat mengenal bisnis online. Tak ada yang sia-sia.

Pertengahan tahun 2008, Mukhlishin membuat situs griyaraihan.com. Namun, ia terhenyak ketika menyadari bahwa bisnis online tak semudah yang dibayangkannya. Dalam bisnis online, dibutuhkan pelayanan yang cepat dan juga stok barang yang lumayan besar. Ia sempat terseok-seok menjalankan bisnis tersebut hingga muncul ide dengan membuka TanahAbang.asia dan menyewa ruko di Tanah Abang pada pertengahan 2009. Strategi mendekat ke supplier ternyata lumayan ampuh, hingga enam bulan berjalan, omsetnya lumayan fantastis.

Mukhlishin yang berlatar pendidikan pesantren dan sempat berkuliah di LIPIA selama tiga tahun ini rupanya banyak belajar dari para pengusaha Cina. Ia mengakui, tidak ada salahnya belajar dari para pengusaha Cina yang sudah sukses di industri fashion, sambil mencari celah agar pengusaha muslim dapat pula berkompetisi dengan mereka. Meski omset pakaian muslim turun naik sesuai musim, ia percaya usaha yang dirintisnya dapat sukses.

Oleh karena itu, ia menyempatkan diri untuk fokus di SEO (search engine optimization) agar lebih banyak orang lagi yang mengenal TanahAbang.asia miliknya. Dengan bisnis online ini, Mukhlishin tidak perlu menyewa kios yang mahal di Tanah Abang. Ia mengistilahkan kios yang ditempatinya di Blok F Tanah Abang sebagai ‘tempat jin buang anak’ karena terlihat sepi dan tidak banyak kios yang dibuka.

Bagi Mukhlishin, kondisi tersebut tidak masalah karena kiosnya digunakan sebagai gudang sementara bisnisnya tetap berjalan lewat online. Yang terpenting baginya adalah pelayanan yang cepat dan stok barang yang memadai. Dengan tiga karyawannya, Mukhlishin terus berusaha memenuhi permintaan pelanggan. Hingga saat ini, TanahAbang.asia menyediakan 700 item barang dari jilbab hingga kaos kaki dan setiap harinya terdapat 8-12 produk baru. Dalam waktu dekat, ia akan pindah ke ruko yang dapat menampung stok barang dagangannya.

Rahasia Sukses

tanah abangKetika ditanya rahasia sukses, Mukhlishin hanya tersenyum dan merasa belum mencapai kesuksesan. Namun demikian, dalam usahanya selama ini, ia terus mengamalkan hadits Rasulullah saw yaitu dengan banyak bersedekah dan memohon doa orang tua. Seperti yang dilakukannya saat ini, ia menargetkan untuk membebaskan tanah wakaf yang dicicilnya dengan harga Rp6 jutaan per bulan. Dari situ, ia termotivasi untuk terus meningkatkan omset dan menggenjot usahanya.

Mau tahu bagaimana cara merintis usaha online a la Mukhlishin? Beginilah caranya. Misalnya, A punya teman 4 orang, ingin membuka bisnis online busana muslim. Busana muslim juga banyak variannya, ada jilbab, rok, baju hamil, mukena, dan sebagainya. Tiap orang siapkan modal Rp20 juta dan tentukan fokus usahanya, misalnya jualan baju hamil. Kemudian, sewa kios di Tanah Abang agar dekat dengan supplier. Karena bersama-sama, jadi modal untuk stok barang dapat diminimalisasi.

Dengan modal per orang Rp20 jutaan, sudah dapat menyediakan stok di atas Rp50 juta. Untuk sewa kios, tiap orang urunan Rp2 juta (dengan asumsi harga kios di tempat sepi Rp10 juta/tahun). Lalu, tiap orang membuat website sendiri-sendiri dengan perkiraan masing-masing sudah memiliki laptop. Bagaimana menyiasati stok barang? A misalnya cuma stok rok, B cuma stok jilbab. Untuk membedakan bahwa setiap rok itu punya A, setiap jilbab itu punya B, setiap produk itu tadi bisa diupload di setiap website.

Kalau produknya laku di website yang lain, keuntungan tinggal dibagi dua. Setelah berjalan sekitar setahun, tiap-tiap orang akan dapat berjalan sendiri-sendiri karena sudah mempunyai brand masing-masing. Pangsa pasar pun tidak hanya dalam negeri, tapi bisa merambah ke luar negeri, omset Rp1 milyar pun bukan sekadar impian. Hmm, bagaimana? Tertarik untuk mencoba terjun ke bisnis online?? (Ind)

Inilah rahasia sukses bisnis masa kini: bisnis online! Tak perlu lapak dan toko ‘gede’, tapi dapat untung banyak. Pak Mukhlishin, adalah salah satu pengusaha muslim yang mencoba ‘nyemplung’ di bisnis online tersebut. Dengan kepercayaan diri tinggi dan yakin sukses, Mukhlishin mampu meraup omset yang cukup fantastik meski tokonya hanya di gang sempit.

Bermula dari Raihan

Siapa yang tak kenal Raihan? Mahasiswa dan aktivis dakwah serta komunitas muslim mungkin tak asing lagi dengan gerai Raihan yang cabang utamanya terletak di Jalan Pemuda, Rawamangun, tepat di depan Kampus Universitas Negeri Jakarta. Raihan adalah sebuah toko yang menjual berbagai pernak-pernik busana muslim, dari kepala hingga ujung kaki, dari obat-obatan herbal hingga kosmetik Islami. Dengan segmentasi pasar yang setia, Raihan pun mendapat nama. Namun, tak banyak yang mengenal siapa di balik kesuksesan Raihan, dialah Mukhlishin, bapak empat anak yang kini merintis menjadi pengusaha fashion muslim di dunia online.

Sejak awal tahun 2000-an, tepatnya setelah menikah, Mukhlishin mulai terjun ke industri fashion, khususnya busana muslim. Sebelumnya, dia pernah merasakan menjadi karyawan di toko buku I’tishom selama dua tahun. Pengalaman bekerja di I’tishom membuatnya menemukan peluang bisnis, yaitu busana muslim. Mulailah ia berjualan busana muslim dengan cara klasik: konsinyasi dan menitipkan barang dagangannya di beberapa tempat, dari Jakarta, Depok, Bogor, hingga Cikarang. Dua tahun berjalan, Mukhlishin dan istri mampu membeli ruko di Jalan Pemuda dan membuka Raihan.

Waktu itu, strategi marketing yang sangat ampuh dilakukan oleh Mukhlishin yaitu dengan tagline: “Beli Jilbab Bisa Dapat Hape”. Karena telepon genggam saat itu masih menjadi barang langka, strategi ini pun langsung menaikkan omset Raihan hingga 40%. Kemudian, dua tahun berlalu, Mukhlishin sudah menyiapkan strategi baru yaitu dengan memberikan hadiah laptop, namun musibah menimpanya.

Toko Raihan habis dilalap api pada tahun 2004, padahal ia baru saja membuka cabang Raihan di dekat stasiun Bogor. Bukan hanya barang dagangannya ludes, Mukhlishin pun harus menanggung utang kepada supplier. Ia memang menolak barang-barangnya ‘diputihkan’ oleh supplier karena tidak mau membebani supplier. Dari kejadian itu, ia bangkit dan dapat membuka cabang Raihan di Depok.

Selain membuka toko Raihan, Mukhlishin pun mencoba peruntungan dengan membuka warnet dan juga ikut MLM. Dari MLM tersebut, Mukhlishin menjadi Distribution Centre dan merasakan jalan-jalan ke Singapura dan Thailand, namun selang beberapa tahun, MLM tersebut bubar. Di sisi lain, usaha warnetnya kandas karena dirasakan tidak maksimal dalam keuntungan. Ia lalu bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA), dan berkenalan dengan bisnis online.

Ambil Manfaat dari Kegagalan Kegagalan demi kegagalan pernah dilalui Mukhlishin dan keluarga. Setelah tokonya terbakar, usaha MLM dan warnet juga kandas, tapi ia terus berusaha untuk bangkit. Dari musibah yang menimpa tokonya, ia berpikir untuk menjadikan utang-utangnya kepada supplier sebagai motivasi untuk terus berusaha dan menghasilkan keuntungan yang banyak. Dari usaha MLM, ia bersyukur karena dapat menghadiri berbagai seminar motivasi dan wira usaha yang membuatnya bertahan hingga sekarang. Sementara dari usaha warnet, ia dapat mengenal bisnis online. Tak ada yang sia-sia.

Pertengahan tahun 2008, Mukhlishin membuat situs griyaraihan.com. Namun, ia terhenyak ketika menyadari bahwa bisnis online tak semudah yang dibayangkannya. Dalam bisnis online, dibutuhkan pelayanan yang cepat dan juga stok barang yang lumayan besar. Ia sempat terseok-seok menjalankan bisnis tersebut hingga muncul ide dengan membuka TanahAbang.asia dan menyewa ruko di Tanah Abang pada pertengahan 2009. Strategi mendekat ke supplier ternyata lumayan ampuh, hingga enam bulan berjalan, omsetnya lumayan fantastis.

Mukhlishin yang berlatar pendidikan pesantren dan sempat berkuliah di LIPIA selama tiga tahun ini rupanya banyak belajar dari para pengusaha Cina. Ia mengakui, tidak ada salahnya belajar dari para pengusaha Cina yang sudah sukses di industri fashion, sambil mencari celah agar pengusaha muslim dapat pula berkompetisi dengan mereka. Meski omset pakaian muslim turun naik sesuai musim, ia percaya usaha yang dirintisnya dapat sukses.

Oleh karena itu, ia menyempatkan diri untuk fokus di SEO (search engine optimization) agar lebih banyak orang lagi yang mengenal TanahAbang.asia miliknya. Dengan bisnis online ini, Mukhlishin tidak perlu menyewa kios yang mahal di Tanah Abang. Ia mengistilahkan kios yang ditempatinya di Blok F Tanah Abang sebagai ‘tempat jin buang anak’ karena terlihat sepi dan tidak banyak kios yang dibuka.

Bagi Mukhlishin, kondisi tersebut tidak masalah karena kiosnya digunakan sebagai gudang sementara bisnisnya tetap berjalan lewat online. Yang terpenting baginya adalah pelayanan yang cepat dan stok barang yang memadai. Dengan tiga karyawannya, Mukhlishin terus berusaha memenuhi permintaan pelanggan. Hingga saat ini, TanahAbang.asia menyediakan 700 item barang dari jilbab hingga kaos kaki dan setiap harinya terdapat 8-12 produk baru. Dalam waktu dekat, ia akan pindah ke ruko yang dapat menampung stok barang dagangannya.

Rahasia Sukses

Ketika ditanya rahasia sukses, Mukhlishin hanya tersenyum dan merasa belum mencapai kesuksesan. Namun demikian, dalam usahanya selama ini, ia terus mengamalkan hadits Rasulullah saw yaitu dengan banyak bersedekah dan memohon doa orang tua. Seperti yang dilakukannya saat ini, ia menargetkan untuk membebaskan tanah wakaf yang dicicilnya dengan harga Rp6 jutaan per bulan. Dari situ, ia termotivasi untuk terus meningkatkan omset dan menggenjot usahanya.

Mau tahu bagaimana cara merintis usaha online a la Mukhlishin? Beginilah caranya. Misalnya, A punya teman 4 orang, ingin membuka bisnis online busana muslim. Busana muslim juga banyak variannya, ada jilbab, rok, baju hamil, mukena, dan sebagainya. Tiap orang siapkan modal Rp20 juta dan tentukan fokus usahanya, misalnya jualan baju hamil. Kemudian, sewa kios di Tanah Abang agar dekat dengan supplier. Karena bersama-sama, jadi modal untuk stok barang dapat diminimalisasi. Dengan modal per orang Rp20 jutaan, sudah dapat menyediakan stok di atas Rp50 juta.

Untuk sewa kios, tiap orang urunan Rp2 juta (dengan asumsi harga kios di tempat sepi Rp10 juta/tahun). Lalu, tiap orang membuat website sendiri-sendiri dengan perkiraan masing-masing sudah memiliki laptop. Bagaimana menyiasati stok barang? A misalnya cuma stok rok, B cuma stok jilbab. Untuk membedakan bahwa setiap rok itu punya A, setiap jilbab itu punya B, setiap produk itu tadi bisa diupload di setiap website.

Kalau produknya laku di website yang lain, keuntungan tinggal dibagi dua. Setelah berjalan sekitar setahun, tiap-tiap orang akan dapat berjalan sendiri-sendiri karena sudah mempunyai brand masing-masing. Pangsa pasar pun tidak hanya dalam negeri, tapi bisa merambah ke luar negeri, omset Rp1 milyar pun bukan sekadar impian. Hmm, bagaimana? Tertarik untuk mencoba terjun ke bisnis online?? (Ind)

Sumber : eramuslim

Jamu Jilbab


Begitu banyak aktivitas ekonomi dhuafa di sekitar kita. Tapi terbayangkah jika seorang wanita harus berjalan kaki selama sekitar empat jam seorang diri, setiap hari. Belum lagi dengan ancaman pelecehan seksual yang mungkin terjadi.

Seperti itulah seorang penjual jamu gendong keliling di kawasan Jakarta Selatan. Berikut penuturannya kepada Eramuslim, termasuk kenapa ia mengenakan jilbab.

Nama Mbak?
Lestari

Sudah berapa lama Mbak berjualan jamu gendong?
Sejak saya lulus SMP

Usia Mbak sekarang berapa?
Sembilan belas tahun.

Kenapa memilih dagang jamu daripada nerusin sekolah?
Ya nggak ada biaya. Sebenarnya sih saya pingin sekolah lagi. Karena nggak ada biaya, biar adik saya saja yang terus sekolah.

Adik Mbak ada berapa?
Satu

Sekarang sekolah di mana?
SMP di kampung.

Kampungnya di mana?
Boyolali.

Di Jakarta Mbak tinggal di mana?
Di Tanah Kusir sama Mas (kakak, red).

Tiap hari Mbak dagang jamu?
Ya. Kecuali Minggu, dagangnya sore.

Dari jam berapa Mbak keluar rumah?
Dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas siang.

Dari Tanah Kusir sampai ke Pondok Indah sini naik apa?
Jalan kaki. Saya biasa keliling ke pelanggan ya dengan jalan kaki.

Berapa penghasilan per harinya Mbak?
Lima puluh ribu.

Anak Mbak berapa?
Saya belum menikah.

Sejak kapan Mbak pakai jilbab?
Baru. Sejak bulan Ramadhan kemarin.

Kenapa Mbak pakai jilbab?
Karena dalam Surah Al-Ahzab, Allah memerintahkan wanita muslimah untuk memakai jilbab supaya tidak diganggu.

Memangnya sering diganggu, Mbak?
Waduh, sering. Tapi alhamdulillah, sejak pakai jilbab sudah tidak lagi. Paling-paling, mereka menggoda saya dengan salamu’alaikum. (eramuslim.com)

Malu Suami


malu_suamiMalu merupakan salah satu hiasan wanita. Dengan malulah wanita menjadi tambah cantik dan menarik. Adakalanya, tidak cuma wanita yang bisa berhias malu. Karena laki-laki pun bisa menjadi sangat pemalu.

Pertemuan sepasang suami isteri adalah juga pertemuan dua sayap yang sebelumnya terpisah. Tak mungkin ada burung yang bisa terbang dengan satu sayap. Sepasang sayap suami isteri itulah yang membawa terbang seribu satu sifat manusia kepada sebuah titik keseimbangan.

Idealita pun bertanya, mungkinkah dua sayap itu tersusun mulus: tepat, akurat, tanpa ketimpangan. Dan realita pun menjawab, kadang ada sayap yang terbentuk agak terbalik.

Sudah menjadi kewajaran kalau laki-laki punya sifat berani, cuek, dan tegas. Begitu pun dengan wanita. Biasa kalau wanita tampil lembut, anggun, dan pemalu. Dua titik kewajaran yang nyaris bertolak belakang itulah yang akhirnya seimbang dalam ikatan suami isteri.

Namun, tidak semua yang wajar selalu datar. Adakalanya naik, dan turun. Boleh saja orang menganggap kalau seorang suami itu tegas dan cuek. Dan isteri lembut nan anggun. Tapi, kenyataan bisa membuktikan kalau ada suami yang justru sangat pemalu. Hal itulah yang kini dirasakan Bu Imah.

Ibu dua anak ini mungkin tergolong wanita yang mudah adaptasi. Luwes. Mudah bergaul. Kalau dipikir-pikir, sifat ini merupakan cap baru buat Bu Imah. Karena sebelum menikah, ia agak pendiam. Jangankan supel, bisa bertahan satu jam saja di keramaian sudah jadi prestasi luar biasa. Kenapa bisa begitu drastis?

Mengenang itu, Bu Imah jadi senyum sendiri. “Lucu memang,” bisik batinnya pelan. Ternyata, selama lima tahun menikah banyak hal terjadi.

Bisa dibayangkan jika orang pendiam bertemu pemalu. Suasana begitu senyap. Persis seperti kampung tanpa listrik. Siang sepi, malam gulita. Yang terdengar cuma suara bersin, batuk, dan tangis anak-anak penghuni kampung. Seperti itulah suasana di bulan-bulan pertama pernikahan Bu Imah.

Lambat tapi pasti, suasana lingkungan mengubah Bu Imah. Tinggal di rumah mertua memang bukan tempat yang cocok buat yang pendiam. Apalagi yang selalu di rumah. Mau apa-apa serba susah. Mau nyelonong ke dapur takut dikritik, ingin makan di luar nggak cukup uang. Wah, repot!

Mau tidak mau, Bu Imah belajar ngomong. Tak mudah, memang. Bulan pertama masih kikuk, bulan kedua keluar keringat dingin. Namun, pepatah memang benar: pengalaman guru yang terbaik. Dua tahun terus uji coba, perubahan pun terasa. Seolah, ayah ibu mertua, kakak ipar dan kemenakan Bu Imah menjadi pelatih alami hingga Bu Imah pintar gaul.

Belum lagi dengan suasana tetangga yang sama sekali berbeda dengan rumah orang tua Bu Imah. Di sekitar rumah mertua, Bu Imah menemukan tetangga-tetangga yang hiper-aktif. Sebentar-sebentar berkunjung. Ngobrol, ngerumpi. Suasana jadi begitu ramai. Perubahan sifat Bu Imah jadi makin sempurna.

Menariknya, perubahan seperti itu tak dialami suami Bu Imah. Selama bertahun-tahun menikah, sifat suami Bu Imah begitu-begitu saja. Sedikit pun tak berubah. Tetap saja pemalu. Itulah di antara sebab kenapa Bu Imah masih tinggal di rumah mertua. Padahal, anak sudah dua.

Aneh, memang. Pendatang berubah, tuan rumah masih seperti dulu. Semula, Bu Imah mengira itu cuma terjadi dengannya. Karena baru kenal, wajar kalau seorang suami masih malu. Ternyata, sama tetangga yang entah sudah berapa tahun dikenal pun seperti itu. Malu. Perubahan cuma terjadi antara suami dengan Bu Imah. Sementara dengan tetangga, orangtua, sanak keluarga, dan teman-teman dekat Bu Imah tetap tidak berubah. Malu dan malu!

Wajar jika dunia suami Bu Imah begitu terbatas. Rumah, kantor, teman ngaji, dan kembali ke rumah. Tidak heran jika teman Bu Imah sering gagal menemukan alamat rumah Bu Imah. Bukan alamatnya yang salah. Tapi, nama suami Bu Imah yang jadi patokan nyaris tak dikenal tetangga. “Siapa? Kayaknya nama itu nggak tinggal di sini!” ucap para tetangga kerap membingungkan si pencari alamat.

Bahkan saat ini, masyarakat sekitar lebih kenal Bu Imah ketimbang suaminya yang penduduk lama di situ. Tidak jarang beberapa ibu-ibu sekitar rumah bertanya ke Bu Imah, “Suami ibu orang mana, sih?”

Tiap ada undangan, apa saja: walimahan, ulang tahun, syukuran, akikahan; prosentase kehadiran suami Bu Imah jauh tertinggal dibanding sang isteri. Rumus yang berlaku: kalau ada suami, pasti ada isterinya; tapi belum tentu sebaliknya.

Pernah Bu Imah menyusun strategi. Ia pura-pura tidak bisa hadir ke sebuah undangan tetangga karena tidak enak badan. Saat itu juga, suami Bu Imah bingung. Padahal, yang ngundang tergolong teman dekat ayah mertua Bu Imah. Spontan, mertua Bu Imah meminta anaknya untuk hadir. Tampak dari wajah suami sesuatu yang beda: pucat, keringat dingin, dan salah tingkah. Melihat itu, hati kecil Bu Imah cuma berujar, “Duh, mudah-mudahan niat baik ini tidak dicatat dosa sama Allah!”

Dengan susah payah, suami Bu Imah akhirnya siap berangkat. Baju batik yang dikenakannya tampak basah di bagian belakang karena keringat dadakan. Begitu pun sisiran rambut yang semula rapi, mulai semrawut tak menentu. “Yah, bismillah!” ucap suami Bu Imah sambil melangkah keluar rumah.

Melihat itu, Bu Imah menarif nafas lega. “Alhamdulillah! Berhasil juga,” ucap Bu Imah dalam hati. Sesaat setelah itu, ayah mertua Bu Imah bilang, “Sudah berangkat suamimu, Mah?” Setelah jawabannya positif, senyum pun menghias sang ayah. Tampaknya, ia berharap kalau anak bungsunya tidak mengecewakan.

Pagi itu begitu cerah ketika Bu Imah sedang bermain di halaman sama anak-anak. Baru saja, mereka melepas keberangkatan suami dan ayah tercinta ke tempat kerja. Tiba-tiba, seorang tetangga yang pernah mengundang syukuran menghampiri. “Bu Imah, kok kemarin tidak datang?” tanya sang tetangga ramah. “Anu, saya sedang tidak enak badan,” jawab Bu Imah sekenanya. “Oh gitu. Kenapa tidak diwakili. Apa suami Bu Imah juga nggak enak badan?” tanya sang tetangga lebih dalam.

Saat itu juga, wajah Bu Imah pucat. Ia seperti tersadar sesuatu. “Ah, suamiku!” ucapnya sambil memaksakan senyum ke arah sang tetangga.

Muhammad Nuh