Mengukur Tetangga


tetanggaHidup bertetangga boleh jadi mirip dengan menebak cahaya bintang-bintang. Terlihat sama, padahal punya kekhasan yang berbeda. Ada yang sebenarnya terang, biasa saja, dan sangat redup. Tapi jangan pernah menghitung, karena hal itu cuma jadi sia-sia.

Tak ada yang lebih menarik setelah urusan keluarga selain dari soal tetangga. Itulah dunia yang paling dekat dengan lingkungan keluarga. Bisa menyenangkan, mengharukan, kadang juga menggelisahkan.

Tiga keadaan itu, memang tak pernah seragam di semua keluarga. Sangat bergantung pada status sosial lingkungan rumah. Tinggal di perumahan elit tentu berbeda dengan perumahan tipe tiga enam ke bawah. Dan akan jauh berbeda lagi jika sebuah keluarga nyempil di kepadatan rumah kampung. Tak beraturan, dan sangat alami. Hal itulah yang kini dialami Bu Sisri.

Satu bulan sudah ibu dua anak ini tinggal di rumah kampung kota. Lingkungannya kampung, tapi lokasinya ada di pusat kota. Itulah mungkin gambaran penduduk asli yang mengelompok dalam kepungan pembangunan kota. Jadilah percampuran budaya yang unik. Selera kota, tapi kemampuan desa. Trendnya kota, tapi gaya gaulnya masih desa.

Di luar plus minus itu, Bu Sisri sangat bersyukur. Tetangganya yang sekarang sangat berbeda ketika masih tinggal bersama ortu. Yang sekarang lebih akrab, perhatian, dan begitu ramah.

Ini terbukti ketika Bu Sisri baru satu hari tinggal. Silih berganti, puluhan ibu tetangganya berkunjung. Mereka berkenalan dengan Bu Sisri. Ada yang nanya soal anak, masakan, suami, perabot, bahkan penghasilan per bulan.

Awalnya Bu Sisri kikuk. Bingung mau ngomong apa. Mau terus terang, menyangkut soal rahasia keluarga. Mau tak jawab, khawatir disangka merendahkan tetangga. Jalan keluarnya, Bu Sisri lebih banyak senyum dan mendengar. Tidak heran jika dari sekian banyak tetangga yang datang, Bu Sisri lebih banyak tahu mereka daripada sebaliknya.

Setelah satu hari meladeni tetangga, Bu Sisri mengira kalau esoknya bisa istirahat. Dan perkiraan itu ternyata salah besar. Justru di hari-hari berikutnyalah mereka melakukan pendalaman. Ada yang selalu datang persis ketika Bu Sisri baru selesai masak. “Udah beres, Bu?” tanya seorang ibu yang tiba-tiba sudah ada di dapur. Tanpa salam, tanpa ketuk pintu. Hampir saja Bu Sisri teriak karena kaget.

Setelah basa-basi, ibu itu pun menghampiri masakan Bu Sisri. Tanpa ragu, salah satu masakan itu pun ia comot. “Hm, enak banget!” ucapnya sambil terus merasai masakan yang lain. Setelah itu, ia baru bilang, “Boleh kan saya cicipi?” Dan Bu Sisri cuma diam. Ia paksakan senyumnya tetap mengembang. Walau hatinya agak keberatan. “Ajari dong masaknya. Ya, ajari saya, ya?!” ucap ibu itu serius. Bu Sisri pun mengangguk.

Ada yang datang tiap kali menjelang maghrib. Sekitar dua puluh menit sebelum bedug, seorang ibu selau menjambangi Bu Sisri. Padahal, saat itu waktu yang paling repot buat Bu Sisri. Ia mesti beres-beres rumah, memandikan anak-anak, dan bersiap shalat jamaah bersama anak-anak. Dan ketika suami pulang menjelang Isya, semua sudah terlihat indah, bersih, dan rapi. Lahir dan batin.

Awalnya, Bu Sisri mengira kedatangan ibu tetangga itu karena urusan penting. Ia pun menunda semua kesibukannya. Bukankah seorang mukmin yang baik yang menghormati tamunya. Dengan ramah dan antusias, Bu Sisri melayani sang tamu. “Ada apa, ya Bu?” tanyanya dengan senyum mengembang.

“Anu, Bu Sisri udah tahu, belum? Pak RT kita kan isterinya dua!” ucap si ibu begitu antusias. Belum Bu Sisri menjawab, ia pun mengisahkan awal mula peristiwanya. Dari ketidaksetujuan isteri pertama Pak RT, sampai isu menggunakan jasa dukun.

Astaghfirullah! Bu Sisri bingung mesti gimana. Mau terus mendengarkan, ceritanya cuma soal ghibah. Mau mengacuhkan, sang tamu jauh lebih tua darinya. Bu Sisri cuma berharap, adzan Maghrib bisa cepat-cepat datang. Itulah alasan yang pas menyudahi pembicaraan.

Bu Sisri pernah curhat ke suami soal tetangga. Ia tumpahkan semua ketidaknyamanan, kekecewaan, dan kebingungannya selama ini. “Gimana dong, Mas?!” ucap Bu Sisri minta ketegasan. Tapi, yang ditanya cuma senyum-senyum.

Memang sih, Bu Sisri mesti realistis. Itulah kenyataan masyarakat kita. Masih butuh banyak pendidikan, arahan, dan tentu saja teladan. Jangan pernah menjauh, apalagi lari dari mereka.

Buat Bu Sisri, itu memang pemandangan lain. Pengalaman baru yang sebelumnya tak pernah kebayang. Selama ini, ia cuma tahu itu dari buku. Waktu-waktu semasa gadisnya habis buat kuliah, aktif di kampus, dan istirahat di rumah. Setelah menikah pun, anak bungsu ini kerap dimanjakan dengan tiga pembantu rumah orang tuanya. Jauh dari capek, jauh dari kepolosan masyarakat kebanyakan.

Bu Sisri sadar. Ia memang harus berubah. Realistis. Tidak lagi hidup di menara gading. Ia bukan lagi si bungsu yang manja. Bukan lagi berada di tengah teman-teman pengajian yang punya tingkat pemahaman lumayan. Ia kini berada di sebuah kampung yang terkepung oleh serbuan gaya hidup kota.

“Bu Sisri!” ucap seorang tetangga memecah lamunan Bu Sisri. “Salam likum,” tambahnya sambil tanpa sungkan mendekat ke Bu Sisri yang masih bersandar di kursi beranda depan.

“Eh, saya ada berita penting lho, Bu!” ungkap si ibu tampak serius. Bu Sisri pun menyimak. Hatinya menerawang, ada hal penting apa sampai pagi-pagi gini sudah di rumah orang. “Ada apa, Bu?” tanya Bu Sisri lembut.

“Anu. Ternyata, Tamara jadi cerai,” ucap si ibu kemudian. Mendengar itu, Bu Sisri ikut prihatin. Kasihan Bu RT itu. Sudah kecewa, harus mendapat kenyataan pahit. “Kok, Pak RT kita begitu sih?” tanya Bu Sisri.

Kali ini, si ibu itu agak bingung. “Oh, bukan Tamara isteri Pak RT,” ucap si ibu menangkap ketidaknyambungan Bu Sisri. “Lalu, siapa?” tanya Bu Sisri. “Itu lho. Tamara si artis yang bintang sabun itu! Kasihan deh, Bu!” jelas sang tetangga menampakkan rasa sedih.

Bu Sisri menatap tajam wajah si tetangga. Pikirannya tidak lagi pada soal yang dibicarakan. Ia cuma berdoa dalam hati, “Ya Allah, kuatkan kesabaranku!”

eramuslim.com

Allah Mengujiku Dengan Empat Nyawa


Namanya Khairiyah. Ibu dari tiga anak ini Allah uji dengan cobaan yang luar biasa. Setelah suaminya meninggal, satu per satu, anak-anak tercinta yang masih balita pun pergi untuk selamanya.

Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.

Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. “Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!” ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.

Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan ‘aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. “Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga,” ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim. (mnh)

(Seperti dituturkan Bu Khairiyah, warga Setiabudi Jakarta, kepada Eramuslim)

Pecah


pecah

pecah

Seorang majikan tampak serius mengawasi dua pembantunya yang sedang memindahkan beberapa guci antik. Formasi guci-guci itu dirasa sang majikan sudah membosankan. Harus diubah dalam susunan baru yang lebih menyegarkan.

“Awas, hati-hati!” ucap sang majikan sambil memberi aba-aba ke arah mana guci-guci itu diletakkan. Dan serempak, dua pembantu itu pun menyahut, “Iya, Bu.”

Sambil mengangkat guci satu per satu, dua pembantu itu menyusun langkah menuruni dan menaiki anak tangga. Mereka melangkah mengikuti aba-aba sang majikan. “Jangan di situ, sebelah sana!” teriak sang majikan sesekali.

Entah karena kelengahan, salah tingkah, atau lainnya, tiba-tiba salah satu guci terlepas dari pegangan seorang pembantu. Dan, ”Praaak!” Guci itu terjatuh dan menggelinding membentur anak-anak tangga. Beberapa keping pecahan guci tercecer di anak tangga.

Tanpa menunggu aba-aba, dua pembantu itu pun terdiam di hadapan majikannya. Mereka seperti siap menyimak berbagai omelan dan ocehan sang majikan yang tak lagi mampu menahan emosi. ”Kamu nggak tahu, berapa mahalnya harga guci itu!” Dan seterusnya.

Ketika dua pembantu itu mengambil pecahan guci untuk disatukan dengan lem perekat, sang majikan pun menghampiri. Kali ini, ia lebih tenang. ”Kalaupun kalian berhasil menyatukan kembali pecahan guci, secanggih apa pun kalian menyatukannya, selalu saja akan tampak bekas kalau guci itu pernah pecah,” ucapnya prihatin.

***
Kesatuan, keutuhan, soliditas atau apa pun sebutannya merupakan impian semua orang. Dalam cakupan apa pun: dalam skala kecil seperti pertemanan antar pribadi, keluarga; maupun yang besar seperti organisasi massa dan negara.

Kurang hati-hati dalam merawat soliditas ini bisa membawa dampak perpecahan. Jangan pernah membayangkan kalau penyatuan pasca perpecahan bisa membentuk soliditas seperti sediakala. Karena dampak perpecahan biasanya akan meninggalkan bekas, secanggih apa pun upaya perekatan yang dilakukan.

Sekali lagi, dahulukan kehati-hatian. Karena merekat sesuatu yang pernah pecah, jauh lebih sulit dari menjaganya untuk tetap solid.

Disalin dari : @eramuslim.com